Selasa, 11 September 2012

Makalah Sejarah dan Perkembangan Ilmu Tajwid


SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU TAJWID
Sebagai Tugas Program Pendamping Keagamaan (PPK)


Disusun Oleh:
Nama : Hendra Budi Gunawan
NIM 11670018


PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011/2012


KATA PENGANTAR
      
           Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Sejarah dan Perkembangan Ilmu Tajwid’’. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Program Pendampingan Keagamaan (PPK). Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih  kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, khususnya kepada :
1.      Mas Hirman selaku pendamping mata kuliah ‘’Program Pendampingan Keagamaan (PPK)’’.
2.      Rekan- rekan semua PPK khususnya kelompok B11.
3.      Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah membantu dalam penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi pembaca yang budiman. Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih.

                                                                                    Penulis,


                                                                                                         Hendra Budi G

PENDAHULUAN

A.         Latar belakang
                Al-Quran sebagai kitab suci rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam yang didalamnya mengandung berbagai macam ilmu, hukum, teologi, sosial, dan sebagainya. Untuk itu perlu mengetahui dan memahami perbedaan bacaan al-quran serta implikasinya terhadap makna dari lafal itu sendiri.
Al-Qur
an dipelajari untuk memahami makna atau pesan dibalik teks. Maka untuk mendapatkan makna yang sesuai dengan Al-Quran perlu memahami qiraat dan cara membaca Al-Quran dengan benar, cara membaca Al-Quran dengan baik dan benar bisa dipelajari dengan ilmu tajwid.
B.    Tujuan
          Disusunnya makalah ini yang berjudul “Sejarah dan Perkembangan Ilmu Tajwid” bertujuan untuk :
1.      Mengetahui tentang sejarah munculnya ilmu tajwid.
2.      Mengetahui tentang perkembangan ilmu tajwid sejak zaman dahulu (zaman Rasulullah SAW) sampai zaman sekarang.
3.      Mengetahui pengertian ilmu tajwid.
4.      Mengetahui pengertian qiraat.
5.      Mengetahui hubungan ilmu tajwid dengan qiraat.



SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU TAJWID

1.    Sejarah Ilmu Tajwid
        Jika dibincangkan kapan bermulanya ilmu Tajwid, maka kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini telah bermula sejak dari al-Quran itu diturunkan kepada Rasulullah SAW. Ini kerena Rasulullah SAW sendiri diperintah untuk membaca al-Quran dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam surat al-Muzammil ayat 4.
 وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا
"Bacalah al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan)."
Kemudian Nabi Muhammad SAW mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil. Sayyidina Ali r.a apabila ditanya tentang apakah maksud bacaan al-Quran secara tartil itu, maka beliau menjawab "adalah membaguskan sebutan atau pelafalan bacaan pada setiap huruf dan berhenti pada tempat yang betul”.
          Ini menunjukkan bahwa pembacaan al-Qur’an bukanlah suatu ilmu hasil dari Ijtihad (fatwa) para ulama' yang diolah berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Sunnah, tetapi pembacaan al-Qur’an adalah suatu yang Taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asli, yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah SAW.
          Para sahabat r.a adalah orang-orang yang amanah dalam mewariskan bacaan ini kepada generasi umat Islam selanjutnya. Mereka tidak akan menambah atau mengurangi apa yang telah mereka pelajari itu, karena rasa takut mereka yang tinggi kepada Allah SWT dan begitulah juga generasi setelah mereka.
Walau bagaimanapun, apa yang dikira sebagai penulisan ilmu Tajwid yang paling awal ialah apabila bermulanya kesadaran perlunya Mushaf Utsmaniah yang ditulis oleh Sayyidina Utsman itu diletakkan titik-titik kemudiannya, baris-baris bagi setiap huruf dan perkataannya. Gerakan ini telah diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi
. Apabila pada masa itu Khalifah umat Islam memikul tugas untuk berbuat demikian ketika umat Islam mulai melakukan-kesalahan dalam bacaan.
          Ini karena semasa Sayyidina Utsman menyiapkan Mushaf al-Quran dalam enam atau tujuh buah itu. beliau telah membiarkannya tanpa titik-titik huruf dan baris-barisnya karena memberi keluasan kepada para sahabat dan tabi’in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah SAW sesuai dengan Lahjah (dialek) bangsa Arab yang bermacam-macam. Tetapi setelah berkembang luasnya agama Islam ke seluruh tanah Arab serta jatuhnya Roma dan Parsi ke tangan umat Islam pada tahun 1 dan 2 Hijriah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat Islam. Ini telah menyebabkan berlakunya kesalahan yang banyak dalam penggunaan bahasa Arab dan begitu juga pembacaan al-Quran. Maka al-Quran Mushaf Utsmaniah telah diusahakan untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam membacanya dengan penambahan baris dan titik pada huruf-hurufnya bagi karangan ilmu qiraat yang paling awal sepakat, yang diketahui oleh para penyelidik ialah apa yang telah dihimpun oleh Abu 'Ubaid Al-Qasim Ibnu Salam dalam kitabnya "Al-Qiraat" pada kurun ke-3 Hijriah.
          Akan tetapi ada yang mengatakan, apa yang telah disusun oleh Abu 'Umar Hafs Ad-Duri dalam ilmu Qiraat adalah lebih awal. Pada kurun ke-4 Hijriah pula, lahir Ibnu Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya "Kitabus Sab'ah", dimana beliau adalah orang yang mula-mula mengasingkan qira’at kepada tujuh imam bersesuaian dengan tujuh perbedaan dan Mushaf Utsmaniah yang berjumlah tujuh naskah. Kesemuanya pada masa itu karangan ilmu tajwid yang paling awal, barangkali tulisan Abu Mazahim Al-Haqani dalam bentuk qasidah (puisi) ilmu tajwid pada akhir kurun ke-3 Hijriah adalah yang terulung.
Selepas itu lahirlah para ulama yang tampil memelihara kedua ilmu ini dengan karangan-karangan mereka dari masa ke masa seperti Abu 'Amr Ad-Dani dengan kitabnya At-Taysir, Imam Asy-Syatibi Tahani dengan kitabnya "Hirzul Amani wa Wajhut Tahani" yang menjadi tonggak kepada karangan-karangan tokoh-tokoh lain yang sezaman dan yang setelah mereka. Tetapi yang jelas dari karangan-karangan mereka ialah ilmu
tajwid dan ilmu qiraat senantiasa bergandengan, ditulis dalam satu kitab tanpa dipisahkan pembahasannya, penulisan ini juga diajarkan kepada murid-murid mereka. Kemudian lahir pula seorang tokoh yang amat penting dalam ilmu tajwid dan qiraat yaitu Imam (ulama) yang lebih terkenal dengan nama Ibnul Jazari dengan karangan beliau yang masyhur yaitu "An-Nasyr", "Toyyibatun Nasyr" dan "Ad-Durratul Mudhiyyah" yang mengatakan ilmu qiraat adalah sepuluh sebagai pelengkap bagi apa yang telah dinyatakan Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya "Hirzul Amani" sebagai qiraat tujuh. Imam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang berasingan bagi ilmu tajwid dalam kitabnya "At-Tamhid" dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama "Matan Al-Jazariah". Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya, yang kemudian menjadi ikutan dan panduan bagi karangan-karangan ilmu tajwid dan qiraat serta bacaan al-Quran hingga hari ini.

2.    Sejarah Perkembangan Tajwid
          Dari sejarah pula, perkembangan ilmu tajwid bermula sejak zaman Rasulullah SAW, Rasulullah menerima wahyu dari Jibril sudah dengan bertajwid, hanya pada masa itu tidak ditekankan hukumnya dengan terperinci dan dibukukan. Orang yang mula-mula sekali membukukan ilmu ini ialah Imam Al-‘Azim Abu Abid Qasim bin Salam pada kurun yang ke 3 Hijriah. Namun ada pendapat lain pula mengatakan, orang yang mula-mula membukukan ilmu ini ialah Hafs bin ‘Umar al-Duri.
          Ilmu
wan sejarah juga menyatakan perkembangan ilmu tajwid di zaman Rasulullah SAW seiring dengan perkembangan ilmu-ilmu lain. Walaupun begitu, seluruh hukum yang berkaitan seperti hukum nun sakinah, mim sakinah, mad, waqaf dan sebagainya belum dinamakan dan dibukukan.
          Penulisan dalam ilmu tajwid sejak dulu dan sekarang tidak begitu banyak, puncak utama ialah karena pembahasan ilmu itu sendiri yang tidak begitu meluas dan kandungan babnya tidak banyak. Selain dari itu ia lebih tertumpu kepada latihan amali dan jarang sekali didapati ia diajar dalam bentuk kuliah dan perbincangan hukum semata-mata. Kitab yang pertama dalam ilmu tajwid ialah dalam bentuk nazam (syair). Ia telah dihasilkan oleh Abu Mazahim al-Khaqani yang wafat pada tahun 325 hijrah yaitu di akhir kurun yang ke 3 hijrah. Nazam tersebut dianggap yang terawal dalam ilmu tajwid.
          Di Malaysia, sejarah perkembangan ilmu tajwid adalah selari dengan sejarah perkembangan Islam. Mengikut pendapat ahli sejarah, Islam mula bertapak di Malaysia pada abad ke 15 di mana Malaka telah muncul sebagai pusat perdangangan yang penting di Asia Tenggara. Para pedagang termasuk pedagang Arab telah datang ke Melaka untuk berdagang. Di samping berdagang, mereka juga menyebarkan Agama Islam. Mengikut sejarah Melayu, Raja Melaka yang pertama yaitu Parameswara telah diIslamkan oleh Sheikh Abdul Aziz dari Mekah pada tahun 1414 yang kemudian menikah dengan puteri Islam dari Pasai. Melalui perkembangan Islam inilah, para mubaligh dari Arab telah mengajar al-Quran dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan sunnah Nabi.
          Di dalam pengajaran al-Quran, ilmu tajwid diberi penekanan yang serius agar pembacaan umat Islam betul dan mengikut apa yang telah disunahkan oleh Rasulullah. Usaha mengajar al-Quran dijalankan melalui madrasah-madrasah, rumah-rumah individu (tokoh imam) dijalankan oleh para mubaligh dari negeri Arab. Mereka menjalankan pengajian al-Quran secara bersemuka bertujuan orang yang diajar dapat membaca al-Quran dengan bertajwid, dari sinilah bermulanya perkembangan ilmu tajwid di Malaysia.
          Pada peringkat awal ramai mubaligh asing terutama dari arab dan India datang ke Malaka untuk menyebarkan dakwah islam. Setelah beberapa lama lahirlah pula para mubaligh yang terdiri dari anak-anak tempatan Malaka. Mereka inilah yang meneruskan perjuangan menyebarkan islam dan pembacaan al-Quran bertajwid kepada penduduk-penduduk tempatan dan negeri-negeri lain di persekitaran. Konsep dakwah yang disarankan oleh islam turut mempengaruhi faktor penyebaran Islam (Al-Quran dan Syariat Islam). Setiap individu islam bertanggungjawab menyampaikan ajaran ini kepada orang lain, telah menyebarluaskan lagi islam di Malaysia.
          Sejarah juga menyatakan bahawa Islam sampai ke Kedah pada 291 H (903 M) dengan penemuan batu nisan tertua di Tanjung Inggris. Di negeri Kelantan pula pada tahun 577H (1181 M) dengan penemuan dinar emas di Kota Kubang Labu, Tumpat. Penemuan Batu Bersurat di Terengganu pada 702H (1302M) membuktikan bahawa negeri Terengganu juga menerima Islam. Ini karena diyakini oleh ahli sejarah Islam bahawa perkembangan pengajian al-Quran dan tajwid juga bermula dari tarikh dan tempat tersebut.
          Mengikut sejarah perkembangan ilmu tajwid, penyusun ilmu tajwid yang pertama dalam bahasa Melayu adalah seorang ulama yang bernama Muhammad Salih bin Ibnu Mu’ti bin Syeikh Muhammad Salih al- Kalantani. Asal usulnya tidak diketahui tetapi mengikut sejarah nama di akhir adalah al-Kalantani, berkemungkinan beliau berasal dari Kelantan. (nama ini terdapat dalam sebuah buku karya beliau).
          Berdasarkan kepada bukunya mengenai ilmu tajwid, yang bertajuk “Mir’atul Quran fi Tashili Ma’rifati Ahkamit Tajwid lil Mulkil Wahhab” dihasilkan pada tahun 1193H bersamaan 1779M adalah tarikh terawal mengenai ilmu itu yang ditulis dalam bahasa Melayu. Beliau juga telah mengambil kitab tafsir Bahasa Melayu “Turjumanul Mustafid”, Karya Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri yang merupakan terjemahan dan tafsir al-Quran yang pertama dalam bahasa Melayu. Buku ilmu tajwid karya Ibnu Syeikh Abdul Mu’ti ini telah disalin semula oleh Tuan Guru Haji Mahmud bin Muhammad Yusuf Terengganu bermula pada tahun 1235 H (1819) M dan disiapkan pada tahun 1265 H bersamaan 1848 M. (mengambil masa sekitar 42 tahun untuk menyiapkannya).
          Terdapat juga beberapa orang ulama dari kerajaan Sambas, Indonesia yang telah menulis ilmu tajwid dalam versi Melayu, diantaranya ialah Haji Khairuddin ibnu Haji Qamaruddin Sambas, yang telah menulis beberapa buah buku termasuklah ilmu tajwid tetapi tidak dinyatakan tarikhnya. Kandungannya membincangkan ilmu tajwid secara lengkap untuk peringkat asas (Koleksi tulisan Allahyarham Wan Mohd Shaghir Abdullah, internet 5 Mei 2008 - senin). Seorang lagi Ulama Sambas yang menulis tajwid ialah Haji Mohd Yasin bin Al-Haji Muhammad Sa’ad Sambas di mana buku tajwid yang ditemui di karang oleh beliau ialah “ Ilmu Tajwid”.
          Buku ini diselesaikan di Mekah waktu Dhuha, hari Sabtu bersamaan 20 Syawal 1285 H. Kandungannya menjelaskan tentang ilmu Tajwid al-Quran. Pada bagian awal ditulis dalam Bahasa Arab yang diberi makna dalam bahasa Melayu. Bagian kedua semuanya menggunakan bahasa Melayu. Manuskrip ini diperoleh di Pontianak Kalimantan Barat. Ia pernah dimiliki oleh salah seorang keturunan Kerabat Diraja Kerajaan Pontianak. Tarikh Perolehan ialah pada 11 Rabiulawal 1423 H hari Jumat bersamaan 24 Mei 2002 M.

3.    Pengertian Tajwid
          Tajwīd (تجويد) secara harfiah bermakna melakukan sesuatu dengan elok dan indah atau bagus dan membaguskan, tajwid berasal dari kata Jawwada (جوّد-يجوّد-تجويدا) dalam bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci al-Quran maupun bukan.
          Sebagian besar ulama mengatakan, bahwa tajwid itu adalah suatu cabang ilmu yang sangat penting untuk dipelajari sebelum mempelajari ilmu qiraat alquran. Ilmu tajwid adalah pelajaran untuk memperbaiki bacaan alquran. Ilmu iajwid itu diajarkan sesudah pandai membaca huruf Arab dan telah dapat membaca alquran sekedarnya.
          Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul huruf (tempat keluar-masuk huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf (hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.
          Pengertian lain dari ilmu tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari tiap-tiap bacaan ayat al-Quran. Para ulama menyatakan bahwa hukum bagi mempelajari tajwid itu adalah fardhu kifayah tetapi mengamalkan tajwid ketika membaca al-Quran adalah fardhu ain atau wajib kepada lelaki dan perempuan yang mukallaf atau dewasa.
          Untuk menghindari kesalahpahaman antara tajwid dan qiraat, maka perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan tajwid, pendapat sebagaian ulama memberikan pengertian tajwid sedikit berbeda namun pada intinya sama sebagaimana yang dikutip Hasanuddin.
           Secara bahasa, tajwid berarti al-tahsin atau membaguskan. Sedangkan menurut istilah yaitu, mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhrajnya menurut sifat-sifat huruf yang mesti diucapkan, baik berdasarkan sifat asalnya maupun berdasarkan sifat-sifatnya yang baru.Sebagian ulama yang lain mendefinisikan tajwid sebagai berikut :
          “Tajwid ialah mengucapkan huruf (al-Quran) dengan tertib menurut yang semestinya, sesuai dengan makhraj serta bunyi asalnya, serta melembutkan bacaannya sesempurna mungkin tanpa belebihan ataupun dibuat-buat”.
Rasulullah bersabda : "Bacalah olehmu Al-Qur'an, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat/pertolongan ahli-ahli Al-Qur'an (yang membaca dan mengamalkannya)." (HR. Muslim)
          Rasulullah bersabda : "Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya kepada orang lain." (HR. Bukhori)
Sebelum mulai mempelajari
ilmu tajwid sebaiknya kita mengetahui lebih dahulu bahwa setiap ilmu ada sepuluh asas yg menjadi dasar pemikiran kita. Berikutnya dikemukakan 10 asas Ilmu Tajwid :
1.      Pengertian tajwid menurut bahasa : Memperelokkan sesuatu. Menurut istilah ilmu tajwid : Melafazkan setiap huruf dari makhrajnya yang betul serta memenuhi hak-hak setiap huruf.
2.      Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah Fardhu Kifayah dan mengamalkannya yakni membaca Al-Quran dengan bertajwid adalah Fardhu Ain bagi setiap muslimin dan muslimat yang mukallaf.
3.      Tumpuan perbincangannya : Pada kalimah-kalimah Al-Quran.
4.     Kelebihannya : Ia adalah semulia mulia ilmu karena ia langsung berkaitan dengan kitab Allah (Al-Quran).
5.      Penyusunnya : Imam-Imam Qiraat
6.      Faedahnya : Mencapai kejayaan dan kebahagiaan serta mendapat rahmat dan keridhaan Allah di dunia dan akhirat, Insya-Allah.
7.      Dalilnya : Dari Kitab Al-Quran dan Hadis Nabi SAW
8.      Nama Ilmu : Ilmu Tajwid 
9.      Masalah yang diperbaincangkan : Mengenai kaedah-kaedah dan cara-cara bacaannya secara keseluruhan yang memberi pengertian hukum-hukum cabangan.
10. Matlamatnya : Memelihara lidah daripada kesalahan membaca ayat-ayat
     suci Al-Quran ketika membacanya, membaca sejajar dengan penurunannya
     yang sebanarnya dari Allah SWT.


4.    Pengertian Qiraat
           
          Sebagaimana yang telah kita pahami mengenai pengertian qiraat bahwa qiraat adalah Ilmu yang mempelajari tentang cara atau metode membaca (pengucapan) lafal atau kalimat al-Qur
an beserta perbedaan-perbedaanya yang disandarkan kepada orang yang menukilnya (imam), seperti yang menyangkut aspek kebahsaan; I’raab, hadzf, isbat, fashl, washl yang diperoleh dengan cara periwayatan.


5.    Hubungan Qiraat dengan Tajwid

          Dari pengertian tajwid dan qiraat diatas terdapat hubungan antara keduanya, bahwa tajwid dan qiraat adalah cara atau metode pengucapan lafal-lafal atau huruf di dalam al-Qur
an, tajwid lebih bersifat teknis dengan upaya memperindah bacaan al-Quran, dengan cara membunyikan huruf-huruf al-Quran sesuai dengan makhraj serta sifat-sifatnya. Adapun qiraat lebih substansial, yaitu pengucapan lafaz-lafaz al-Quran, kalimat ataupun dialek kebahasaan.


KESIMPULAN

    
     Dari uraian singkat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tajwid telah dikenal pada masa Rasulullah SAW, karena pada saat itu masyarakat sudah tahu cara membaca al-Quran dengan benar. Adapun hubungan qiraat dengan tajwid ialah, tajwid lebih bersifat teknis dengan upaya memperindah bacaan al-Quran dengan cara membunyikan huruf-huruf al-Quran sesuai dengan makhraj serta sifat-sifatnya. Adapun qiraat lebih substansial, yaitu pengucapan lafaz-lafaz al-Quran, kalimat ataupun dialek kebahasaan. Jadi berbicara tentang tajwid tidak turut pula ketinggalan untuk berbicara qiraat juga.

DAFTAR PUSTAKA

Tarib Moh
.Sejarah Ilmu Tajwid.http://referensia-ku.blogspot.com: Diakses pada    
            tanggal 10 November 2011, Pukul 09.00

Wales Jimmy
.Tajwid.http://www.wikipedia.com, Diakses pada tanggal 10 
            November 2011, Pukul 09.10

AF. Hasanuddin
.1995.Perbedaan Qiraat dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath        
            Hukum dalam Al-Quran.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada

Zulfidar Akaha. Abduh
.1996.Al-Qur’an dan Qiroat.Jakarta:Pustaka Al-Kautsar


Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar