Rabu, 12 September 2012

Makalah Islam di Timur (Oksidentalisme)


KATA  PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan penguasa langit dan bumi, yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Oksidentalisme Islam  “
Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Studi Islam, serta menambah pengetahuan mengenai Islam di Negara Timur . Makalah ini terdiri dari 4 bagian:
  1. Pendahuluan
  2. Pembahasan
  3. Hasil Penelitian
  4. Kesimpulan
Makalah ini tidak dapat terselesaikan tepat waktu tanpa bantuan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada:
1.      Bapak Muhsin Khalida selaku dosen mata kuliah Pengantar Studi Islam
2.      Semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
 Kami menyadari jika dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan, kami mengharap kritik dan saran sebagai penyempurnaan ke depan.

Yogyakarta,  25 Oktober 2011

           
Tim penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

Apakah hubungan antara Oksidentalisme dan Orientalisme, apakah Oksidentalisme itu, adakah ayat dalam al-qur’an tentang oksidentalisme,  apakah kandungan atau makna dari ayat-ayat yang berhubungan dengan barat dan timur itu, bagaimanakah pendefinisian tentang oksidentalisme, apa tujuan dari Oksidentalisme, bagaimanakah sejarah perkembangan Oksidentalisme, apa saja aliran – aliran Oksidentalisme, siapakah tokoh – tokoh Oksidentalisme.

BAB II
PEMBAHASAN

Oksidentalisme dianggap orang sebagai ilmu tandingan bagi ilmu orientalisme. Ada juga yang memperlawankan antara keduanya. Sebagian menganggap oksidentalisme hanya sebagai reaksi terhadap orientalisme. Akan tetapi, kami lebih memahami keduanya sebagai pasangan, bagaikan barat adalah pasangan timur, langit pasangan bumi, siang pasangan malam, dan pasangan-pasanga lain disemesta ciptaan Tuhan. Oksidentalisme dan orientalisme merupakan dua aliran pemikiran yang nantinya harus bertemu pada kutub kesadaran akademik-teoritik/inductive dan kutub deductive dialektik holistik/ scientificcum doctrinaire.
 Oksidentalisme adalah kebalikan (antonim) dari istilah oreantalisme yang dalam pengertian umum, orientalisme adalah suatu kajian komprehensif dengan meneliti dan merangkum semua aspek kehidupan masyarakat Timur. kiriYang disebut Timur meliputi kawasan yang luas, termasuk Timur Jauh (negara-negara Asia yang jauh dari Eropa, seperti Jepang dan Cina), Timur Dekat (negara-negara Asia yang dekat dengan Benua Eropa, seperti Turki), dan Timur Tengah (negara-negara Asia yang terletak di antara keduanya, seperti negara-negara Arab). Occidentalism berarti “watak, kultur, adat istiadat, dan lain sebagainya dari occident”. Occidentalize bermakna “membuat atau menjadikan berbudaya atau beradat-istiadat, berkarakter, berwatak occidental (Webster’s New World College Dictionary 1996:937). Di antara orang-orang islam atau orang-orang non barat yang berkultur dengan kultur oksidental itu, disebut sebagai occidentalizing atau occidentalized (Ziauddin Sardar, 1987).
Istilah oksidentalisme dipopulerkan oleh Dr. Hasan Hanafi seorang pemikir dari Mesir dan juga penulis al yasar al Islam - islam menjabarkan pengertian Oreantalisme, kami menarik kesimpulan bahwa pengertian secara umum oksidentalisme adalah kajian kebaratan atau suatu kajian komprehensif dengan meneliti dan merangkum semua aspek kehidupan masyarakat Barat. Dalam oksidentalisme, posisi subjek objek menjadi terbalik, Timur sebagai subjek pengkaji dan Barat sebagai objek kajian. Walau istilah oksidentalisme adalah antonim dari Oreantalisme, tapi di sini ada perbedaan lain, oksidentalisme tidak memiliki tujuan hegemoni dan dominasi sebagaimana orientalisme. Tetapi, para oksidentalis hanya ingin merebut kembali ego Timur yang telah dibentuk dan direbut Barat.
Dalam kitab suci al-Qur’an banyak sekali dijumpai ayat yang mengandung istilah-istilah yang berhubungan dengan oksidentalisme dan orientalisme dan kebanyakan kedua istilah itu disebutkan beriringan atau berpasangan dalam satu ayat dan ada juga yang tidak. Di dalam al-Qur’an mengandung banyak sekali istilah yang bermakna “barat, timur, matahari terbenam atau terbit, seperti al-maghrib, al-masyriah, gharbiyyah, dan syarqiyyah. Salah satu kutipan ayat yang memberikan paham konsep barat dah timur:
Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit/ thala’at condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam/ gharabat, menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat yang lapang di dalamnya. Yang demikian itu adalah tanda-tanda kebesaran kekuasaan Allah. Barang siapa yang ditunjuki Allah, maka dia mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tiada akan mendapatkan seseorang yang akan membimbingnya”. (Qs. Al-Kahfi, 18:17).
Jelas sekali dengan ayat tersebut Allah memberikan bimbingan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dengan cara-Nya sendiri, yang manusia manapun tidak akan sanggup berbuat serupa. Terbit dan terbenam matahari berada di tempat yang sama yaitu gua atau kahf. Hanya keluar masuk gua itulah timur dan barat.
Sangat banyak ayat yang menjelaskan konsep barat dan timur yang diajarkan islam, tidak sedikit pun mengandung makna kontradiktif, diskriminatif, dan subjektif. Hal ini jauh berbeda dengan pemikiran manusia, yang cenderung mempertentangkan dan menempatkan masing-masingnya dalam kategori-kategori pernilaian yang penuh diskriminatif.
Pendefinisian tentang oksidentalismedengan salah satu cara Edward Said memformulasikan orientalisme. Ada tiga cara yang agak berbeda (Bryan S. Turner, Runtuhnya Universalitas Sosiologi Barat,2006), yang bisa dipakai, yaitu: pertama, oksidentalisme dipandang atau dapat dipandang sebagai suatu epistemologi dan ontologi tertentu yang mencakapkan perbedaan yang jelas antara timur dan barat. Kedua,oksidentalisme mungkin bisa juga dilihat sebagai istilah akademik yang merujuk kepada seperangkat lembaga, disiplin ilmu, dan berbagai aktivitas, yang biasanya terbatas pada perguruan-perguruan tinggi timur yang berkepentingan dengan kajian tentang masyarakat dan kebudayaan barat. Ketiga, oksidentalisme dapat dipandang sebagai sebuah lembaga berbadan hukum yang berkepentingan dengan masyarakat-masyarakat barat.
Tujuan dari oksidentalisme adalah untuk menandingi orientalisme, menghilangkan berbagai penderitaan lama yang diakibatkan orientalisme, dan menantang serta melawan segala macam ancaman yang semakin luas diberikannya terhadap kehidupan dunia timur. Maka tujuan utama oksidentalisme adalah keilmuan atau intelektual. Dengan demikian, budaya barat akan dapat dipahami secara kritis oleh dunia timur, dan juga salah paham yang selama ini yang terjadi antar kedua belah pihak dapat dihilangkan. Menjadi tujuan oksidentalisme juga untuk mengikis habis perasaan self isolationism yang terdapat dikalangan masyarakat timur agar dapat berdialog dengan masyarakat barat. Sebaliknya masyarakat barat itu sendiri harus menghilangkan mental superioritas, sikap dominan, dan barat sentris mereka.
Sejarah munculnya oksidentalisme minimal ada dua, yaitu: pertama,A. Mukti Ali, dalam tulisannya yang terbit tahun 1965 menyatakan,”Oksidentalisme harus segera lahir di Indonesiaini, dan patutlah sekiranya, kalau Institut Islam Negeri (sekarang UIN), Al-jami’ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah (Sunan Kalijaga) menjadi ibu kandungnya” (A. Mukti Ali,1965:32). Pernyataan ini menunjukkan bahwa sampai tahun 1965 oksidentalisme belum dikenal orang. Kedua, James G. Carrier mengedit sekumpulan tulisan beberapa penulis, dan menerbitkannya tahun 1995 dengan judul Occidentalism Images of the West, mengklaim atau mengakui bahwa dialah yang pertama kali memunculkan dan memperkenalkan istilah oksidentalisme itu kepada publik.
Aliran-aliran oksidentalisme:
·         Western Occidentalisms
·         Romantic Occidentalism
·         Anthopological Occidentalism
·         Wise Occidentalism
·         South Asian Occidentalism

Dalam kajian ini kami sebutkan beberapa tokoh oksidentalisme yang mayoritas mereka adalah pemikir dan tokoh pembaharu islam.

1.    Jamaluddin al-Afghani.,
Jamaluddin Al-Afghani adalah pahlawan besar dan salah seorang putra terbaik Islam. Kebesaran dan kiprahnya membahana hingga ke seluruh penjuru dunia. Sepak terjangnya dalam menggerakkan kesadaran umat Islam dan gerakan revolusionernya yang membangkitkan dunia Islam, menjadikan dirinya orang yang paling dicari oleh pemerintahan kolonial ketika itu, Inggris. Tapi, komitmen dan konsistennya yang sangat tinggi terhadap nasib umat Islam, membuat Al-Afghani tak pernah kenal lelah apalagi menyerah.
2.    Dr. Muhammad Abduh.,
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah. Lahir didesa Mahallat Nashr di kabupaten al-Buhairah, Mesir tahun 1849 M. Dan beliau wafat pada tahun 1905 M.
3.     Sheikh Muhammad Rasyid Ridha.,
Muhammad Rasyid Ridha, lahir di Qalmun, sebuah desa sekitar 4 km dari Tripoli, Libanon pada 27 Jumadil Awal 1282 H.; Beliau adalah bangsawan Arab yang memiliki garis keturunan langsung dari Sayyidina Husen, putera Ali bin Abu Thalib dan Fatimah puteri Rasulullah Saw.
4.     Dr. Muhammad Imarah.,
Muhammad Imarah atau Amarah lahir di Desa Sharwah-Qalain Propinsi Kafr Al-Syaikh Mesir, seorang intelektual kelas kakap di Tanah Arab. Responnya yang cukup antusias pada dunia akademis, terutama dalam menyikapi tren pemikiran Islam, telah mengibarkan namanya dalam dunia pendidikan dan pemikiran Islam kontemporer.
5.     Dr. Hasan Hanafi.,
Dilahirkan di Cairo, Mesir pada 14 Februari 1934 M. Hasan Hanafi, pemikir muslim modernis dari Mesir, adalah salah satu tokoh yang akrab dengan simbol-simbol pembaruan dan revolusioner, seperti Islam kiri, oksidentalisme, Tema-tema tersebut ia kemas dalam rangkaian proyek besar; pembaruan pemikiran Islam, dan upaya membangkitkan umat dari ketertinggalan dan kolonialisme modern.
6.    Nurcholish Madjid.M.A.,
Lahir di Jombang, 17 Maret 1939 (26 Muharram 1358), dari keluarga kalangan pesantren. Pendidikan yang ditempuh: Sekolah Rakyat di Mojoanyar dan Bareng (pagi) dan Madrasah Ibtidaiyah di Mojoanyar (sore); Pesantren Darul 'Ulum di Rejoso, Jombang; KMI (Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah) Pesantren Darus Salam di Gontor, Ponorogo; IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta (Sarjana Sastra Arab, 1968), dan Universitas Chicago, Illinois, AS (Ph.D., Islamic Thought, 1984).
7.     Adian Husaini, M.A.,
Lahir Bojonegoro, 17 Desember 1965 adalah ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, sekretaris jenderal Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina-Majelis Ulama Indonesia (KISP-MUI), Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan anggota pengurus Majlis Tabligh Muhammadiyah.

Sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh oksidentalisme lain yang kami tidak sebutkan di sini, karena nanti akan membuat tulisan ini terlalu panjang dan membosankan pembaca

BAB II
HASIL PENELITIAN

Menurut kelompok kami setelah membaca buku “Pergumulan Timur Menyikapi Barat Dasar-dasar Oksidentalisme” serta artikel-artikel tentang oksidentalisme, maka kami dapat menjelaskan bahwa oksidentalisme adalah kebalikan (antonim) dari istilah oreantalisme yang dalam pengertian umum, orientalisme adalah suatu kajian komprehensif dengan meneliti dan merangkum semua aspek kehidupan masyarakat Timur. kiriYang disebut Timur meliputi kawasan yang luas, termasuk Timur Jauh (negara-negara Asia yang jauh dari Eropa, seperti Jepang dan Cina), Timur Dekat (negara-negara Asia yang dekat dengan Benua Eropa, seperti Turki), dan Timur Tengah (negara-negara Asia yang terletak di antara keduanya, seperti negara-negara Arab). Occidentalism berarti “watak, kultur, adat istiadat, dan lain sebagainya dari occident”.
Sedangkan menurut Dr. Hasan Hanafi seorang pemikir dari Mesir dan juga penulis al yasar al Islam - islam menjabarkan pengertian Oreantalisme, kami menarik kesimpulan bahwa pengertian secara umum oksidentalisme adalah kajian kebaratan atau suatu kajian komprehensif dengan meneliti dan merangkum semua aspek kehidupan masyarakat Barat. Dalam oksidentalisme, posisi subjek objek menjadi terbalik, Timur sebagai subjek pengkaji dan Barat sebagai objek kajian. Walau istilah oksidentalisme adalah antonim dari Oreantalisme, tapi di sini ada perbedaan lain, oksidentalisme tidak memiliki tujuan hegemoni dan dominasi sebagaimana orientalisme. Tetapi, para oksidentalis hanya ingin merebut kembali ego Timur yang telah dibentuk dan direbut Barat.



BAB IV
KESIMPULAN
Islam merupakan agama samawi terakhir yang diturunkan Allah kepada manusia melalui utusan terakhir-Nya Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul, hal ini menjadikan ajaran Islam sebagai agama paripurna yang menyempurnakan segala aturan dari agama-agama samawi sebelumnya. Kedatangan agama Islam yang didakwahkan Nabi Muhammad menampakkan kilaunya setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan seruannya diterima dengan baik di sana, cahaya Islam mulai menyala dan dalam waktu yang singkat menerangi kegelapan di jazirah Arabia, bahkan lambat laun menerangi daerah-daerah sekitarnya sehingga pada masa itu Madinah telah menjelma menjadi sebuah negara besar dengan seorang pemimpin besar tak kalah besarnya dengan Imperium Rumawi di Barat dan Imperium Persia di Timur.
Kaum orientalis Barat yang dengan kiprahnya telah banyak memberikan pengaruh utamanya kepada orang Barat terhadap cara bersikap terhadap Islam dan Timur selama berabad-abad di zaman kolonial, kehadiran orientalis dan pengaruhnya ini telah memunculkan reaksi dari dunia Timur dengan memunculkan ide oksidentalisme dengan cara mempelajari Barat dan memberikan  pemahaman yang berimbang terhadap dunia Barat dan dunia Timur.
Motif di balik kajian oksidentalisme adalah untuk mempelajari akar kemajuan bangsa-bangsa barat, memfilternya dan menerapkanya di dunia timur hingga timur keluar dari keterbelakangannya. Selain itu Oksidentalisme diharapkan mampu menghilangkan kecurigaan yang tidak mendasar terhadap barat yang terus mengendap dipikiran orang timur.
Menurut kami dampak positif dan negatif akibat oksidentalisme tergantung pada pribadi oksidentalis itu sendiri. Seorang oksidentalis yang benar menurut kami, ialah yang tidak terlalu terpengarah dengan kemajuan peradaban barat dan lantas mengadopsi apa saja yang yang diproduksi oleh barat, boleh mengambil dan meniru barat tetapi harus memfilternya dengan landasan islam dan iman, karena kalau tidak akan menimbulkan semacam racun dalam masarakat timur khususnya ummat islam. Islam yang universal, mengajarkan libralisme dalam berfikir, memfungsikan akal sebagai anugerah fitrah tetapi dibatasi oleh dua pokok pondasi dasar yaitu Al-qur'an dan As-sunnah, seagaimana ungkapan yang sering kita dengar “ kamu punya kebebasan tetapi kebebasanmu dibatasi oleh kebebasan orang lain”, bersebrangan dengan libralisme yang didengung-dengungkan dan dianut oleh barat, yaitu libralisme tanpa batas, dan ini berbahaya sehingga kita harus berhati-hati.


DAFTAR PUSTAKA

Daya, Prof. Dr. Burhanuddin.2008.Pergumulan Timur Menyikapi Barat: Dasar- Dasar Oksidentalisme.Yogyakarta:SUKA Press.
http://dutabengkalis.blogspot.com/2009/02/istilah-oksidentalisme-dipopulerkan.html

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar