Tampilkan postingan dengan label Islam Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Sains. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Juli 2014

Manfaat Gerakan Shalat

1. Takbiratul Ihram
Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar yang kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas dan gerakan ini bermanfaat untuk melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan kekuatan otot lengan.
2. Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang dan tangan bersandar pada lutut.
Gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, ruku` adalah sarana latihan bagi kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.
3. I’tidal
Pada saat I’tidal dilakukan, organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Tentu memberi efek melancarkan pencernaan.
4.. Sujud
Posisi sujud berguna untuk memompa getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan daerah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan sujud dengan tuma’ninah (tenang), tidak tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak karena sujud yang tuma’ninah dan kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang. Posisi seperti ini menghindarkan seseorang dari gangguan wasir juga saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada. Khusus untuk wanita, payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.
Selain itu, manfaat lain bagi wanita yaitu otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
5. Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari dua macam yaitu iftirosy (tahiyat awal) dan tawarru’ (tahiyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.
Pada saat iftirosy, tubuh bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini mampu menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarru’ sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (uretra), kelenjar kelamin pria (prostate) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi seperti ini mampu mencegah impotensi.
Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’ menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.
6. Salam
Gerakan memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal. Salam bermanfaat untuk merelaksasikan otot sekitar leher dan kepala, menyempurnakan aliran darah di kepala sehingga mencegah sakit kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.

Dr. Alexis Carel, seorang Pemenang hadiah nobel dalam bidang kedokteran, dan Direktur riset Rockfeller Foundation Amerika, memberikan pernyataan sebagai berikut: “Sholat memunculkan Aktifitas pada perangkattubuh dan anggota tubuh. Bahkan sebagai sumber aktifitas terbesar yang dikenal sampai saat ini. Sebagai seorang dokter, saya melihat banyak pasien yang gagal dalam pengobatan, dan dokter tidak mampu mengobatinya. Lalu, ketika pasien-pasien membiasakan Sholat, justru penyakit mereka hilang. Sesungguhnya Sholat bagaikan tambang Radium yang menyalurkan sinar dan melahirkan kekuatan diri. Sholat menciptakan fenomena yang mencengangkan, mendatangkan Mukjizat”.

Demikianlah yang dapat saya share kepada Anda sekalian. Sungguh banyak mendatangkan banyak manfaat bagi kita yang menunaikannya sehari-hari. Semoga kita bisa lebih meningkatkan ibadah shalat kita. Mengharap banyak kesehatan dan tentulah ridha-Nya.

Tidur dengan Suasana Gelap Membuat Sehat

Kenapa harus gelap? Kenapa tidak boleh ada seredup apapun cahaya saat tidur? Nah, buat yang masih suka tidur “terang-terangan” wajib baca nii artikel!!
Larangan tidur dalam keadaan gelap bukan berarti tanpa dasar. Perintah ini sudah ada sejak zaman Rasul 14 ribu tahun yang lalu!! Sudah cukup lama sekali bukan? Sebuah hadist meriwayatkan: "PADAMKANLAH LAMPU di MALAM HARI APABILA KAMU AKAN TIDUR, Tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman" (HR. Bukhari dan Muslim)

Pandangan Biologi & Medis tidur dalam cahaya gelap erat hubungannya dengan sains dan kesehatannya. Semakin malam semakin gelap tubuh akan merasa lelah dan mengantuk. Wajarlah, karena sintesis dan sekresi hormon melatonin oleh kelenjar Pineal semakin meningkat. Seorang Biolog, Joan Roberts menemukan rahasia setelah melakukan percobaan pada hewan. Ketika hewan tersebut diberi cahaya buatan pada malam hari, Melantonin nya(salah satu hormon dalam sistem kekebalan yang mampu memerangi dan mencegah berbagai penyakit termasuk kanker payudara dan kanker prostat) menurun dan sistem kekebalan tubuhnya melemah.

Usut punya usut, cahaya lampu(include TV) menyebabkan hormon menjadi sangat lelah. Keadaan malam yang gelap diam-diam berkolaborasi dengan tubuh. Hanya dalam keadaan yang benar-benar gelap tubuh menghasilkan Melantonin. Sebaliknya, tidur dengan lampu menyala di malam hari sekecil apapun sinarnya menyebabkan produksi hormon Melantonin terhenti.
Walaupun dalam keadaan terlelap, sinar kecil akan tetap menembus dan memasuki ruangan stimulator yang nantinya direspon si otak. Walaupun mata kita terpejam, tapi jika ada cahaya yang bersinar maka otak kita akan respect terhadap cahaya yang masuk tersebut. 

"Orang-orang yang bangun di malam hari disarankan untuk tidak menyalakan lampu. Kami percaya bahwa setiap kali menyalakan cahaya buatan pada malam hari akan memiliki dampak pada jam biologis tubuh, karena ini adalah mekanisme yang sensitif," ujar Dr Rachel Ben-Sclomo dari University of Haifa.
Para ilmuwan mengklaim jika seseorang terbangun di malam hari dan menyalakan lampu selama beberapa detik saja, maka bisa menyebabkan perubahan biologis yang mungkin mengarah ke kanker. Jika pada penelitian sebelumnya tidur malam dengan lampu terang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara dan kanker prostat. Maka pada penelitian terbaru ini menunjukkan paparan jangka pendek juga bisa dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker. Setiap perintah dan larangan Rasul pasti bermanfaat bagi umatnya!

Naudzubillah,….. Hal kecil yang berimbas sangat mengerikan bukan? Masih berminat untuk tidur “terang-terangan” kawan?

Shalat 5 Waktu

Saya mulai dengan ayat Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 103 yang menjelaskan bahwa sholat merupakan kewajiban kita sebagai orang mukmin, dan shalat tersebut telah ditentukan waktunya.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
  Sudah jelas bukan, bahwa shalat itu telah ditentukan waktunya didalam Al-Qur'an, yang berarti bahwa shalat harus dikerjakan tepat waktu. Mungkin sebagian besar dari kita masih banyak yang belum bisa melaksanakan shalat tepat waktu dikarenakan padatnya aktivitas kita sebagai mahasiswa yang notabene menyita banyak waktu kita, sehingga memungkinkan kita meninggalkan shalat. 
  Temen-temen perlu tau juga, perintah shalat tepat waktu itu bukan hanya sekedar perintah didalam Al-Qur'an, namun ada banyak rahasia mengapa shalat fardlu harus dilakukan tepat pada waktunya. Hal ini dilihat dari sudut pandang sains looh temen-temen . Hal tersebut saya dapat dari sebuah sumber yaitu buku ilmiah keagamaan karya Prof. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS yang berjudul "The Science Of Shalat". 
Coba simak rahasia berikut yuuuuk temen-temen, semoga ini bisa memotivasi kita untuk melaksanan sholat tepat waktu. 

Subuh
  Pada waktu subuh alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok). Dalam fisiologi, tiroid memiliki pengaruh terhadap sistem metabolisme tubuh manusia. Warna biru muda juga mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rezeki dan cara berkomunikasi. Nah ketika adzan subuh berkumandang, tenaga alam berada pada tingkatan optimum yang kemudian diserap oleh tubuh manusia tetutama pada waktu ruku' dan sujud. Sudah barang tentu sangat rugi ya.. yang pada waktu itu masih tiduur, karena kehilangan kesempatan mendapat semangat baru untuk mencari rezeki dan berkomunikasi. ko bisa gitu? itu terjadi karena tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika ruh dan jasad masih lelap tidur.

Dzuhur 
  Warna alam pada saat memasuki waktu dzuhur bernuansa menguning yang berpengaruh terhadap perut dan sistem pencernaan manusia. Warna kuning keemasan ini juga memiliki pengaruh terhadap hati. Selain itu warna kuning ini juga mempunyai rahasia yang berkaitan dengan perasaan dan keceriaan seseorang. Jadi, rugi besar laah bagi yang suka melewatkan shalat Dzuhur. Karena akan berakibat pada gangguan pada sistem pencernaan serta berkurang keceriaan. 

Ashar
  Warna alam pada waktu Ashar berubah menjadi orange. aroma orange ini ternyata berpengaruh terhadap kondisi prostate, uterus, ovary, testis dan sistem reproduksi. Warna orange pada waktu Ashar juga mempengaruhi kreativitas seseorang, sehingga kerugian bagi yang yang kerap tertinggal shalat Ashar. Karena akan menurunkan adaya kreativitasnya. jadi tidak heran kan kalau kita tidur pada waktu ashar, ketika bangun kita merasa ling-ling (bingung). Selain itu, organ reproduksi juga akan kehilangan energi positif dari warna orange tersebut.
  
Maghrib
  menjelang shalat magrib senja terlihat warna alam berubah menjadi merah. hal ini terjadi karena waktu Maghrib tiba terjadi spektrum warna alam selaras dengan frekwensi jin dan iblis. Pada waktu ini, jin dan iblis amat bertenaga karena memiliki resonansi bersamaan dengan warna alam.Jika sedang salam perjalanan, hendaklah berhenti untuk mengerjakan shalat Mghrib. Hal ini lebih baik karena pada waktu Maghrib, banyak interfernsi atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekwensi sama. Sehingga penglihatan terkadang kurang tajam oleh adanya fatamorgana.
Isya
  Suasana alam berubah menjadi warna nila dan selanjutnya menjadi gelap. Waktu Isya menimpan rahasia ketentraman dan kedamaian yang frekwensinya sesuai dengan sistem kontrol otak. Kerugian bagi yang melewatkan shalat Isya adalah sering merasa gelisah. Jika waktu Isya usai dan alam mulai diselimuti kegelapan hendaknya segera mengistirahatkan tubuh denga tidur. Pada saat malam, kondisi jiwa berada pada gelombang Delta dengan frekuensi dibawah 4 Hz pada seluruh sistem tubuh sehingga kondisi fisik memasuki waktu istirahat. 
sumber :
Rachman, Osly. 2011. The Science of Shalat. qultum media : Indonesia 

Astronomi Islam dalam Penetapan Jadwal Puasa

Astronomi ialah cabang ilmu alam yang melibatkan pengamatan benda-benda langit (bintang, planet, komet, gugus bintang, atau galaksi) serta fenomena-fenomena alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi (radiasi latar belakang kosmik (radiasi CMB)). Ilmu ini secara pokok mempelajari berbagai sisi dari benda-benda langit seperti asal-usul, sifat fisika atau kimia, meteorologi, dan gerak dan bagaimana pengetahuan akan benda-benda tersebut menjelaskan pembentukan dan perkembangan alam semesta.
Ilmu astronomi, yang dalam khasanah ilmu pengetahuan Islam dikenal dengan ilmu falak, yaitu ilmu yang mempelajari tentang benda-benda langit, matahari, bulan, bintang dan planet-planetnya. 
Berbagai pertimabangan praktis, seperti menentukan arah ketika melakukan perjalanan di waktu malam atau untuk memahami korelasi antara musim satu dengan musim yang lain setiap tahunnya dengan posisi planet, semakin menambah minat dalam kajian astronomi.
Dalam sejarah islam, astronomi dikembangkan baik untuk kepentingan praktis maupun teoritis. Kajian tentang benda-benda ruang angkasa didorong oleh anjuran al-Quran agar memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyyah, sepertihalnya:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Q.S. Yunus (10):5)
Dalam astronomi penetapan jadwal puasa ini dikembangkan metode observasi (rukyat) yang sistematis dan memenuhi kaidah serta syarat–syarat ilmiah, yaitu obyektif dan replicable. Dari ribuan observasi, maka berhasil dibuat rumus-rumus hitungan(hisab) untuk melakukan prediksi ke depan. 
1. Hisab
Hitungan hisab itu kini bisa diotomatisasi dengan pemrograman dalam komputer. Dengan demikian berbagai kesalahan manusia bisa dieliminasi. Salah satu contoh program komputer yang khusus dikembangkan untuk hisab kalender Hijriah adalah software “Mawaaqit” yang semula dikembangkan oleh Club Astronomi Al-Farghani bersama ICMI Orsat Belanda dan kemudian dilanjutkan di Bakosurtanal. Metode ini cukup akurasi terbukti dengan Lunar Laser Ranging, maupun secara praktis, yaitu di dunia pelayaran. Dunia pelayaran setiap hari memakai astronomi modern. Dengan demikian hisab modern ini sudah mendekati pasti (qath’ie), apalagi bila ketelitian yang diperlukan cuma dalam hitungan menit. Dengan hisab modern ini bisa dihitung besaran-besaran hisab yang sangat penting, dua di antaranya adalah:
a. Ijtima’
Ijtima’ adalah saat “bertemunya” (conjunction) bulan dan matahari pada bujur ekliptik yang sama. Bila lintangnya juga sama maka akan terjadi gerhana matahari. Sejak ratusan tahun yang lalu para astronom bisa menghitung ijtima’ ribuan tahun ke depan dengan kesalahan kurang dari satu menit. Ijtima’ terjadi serentak, dan cuma sekali setiap bulan. Peristiwa ijtima tidak bisa dilihat karena matahari di belakang bulan sangat menyilaukan.
b. Irtifa’, Wujud ul Hilal
Setelah ijtima’, bulan yang makin tinggi lambat laun akan menyentuh horizon bagi tempat di muka bumi yang sedang mengalami matahari terbenam. Bila bulan ini tepat di horizon, maka dikatakan irtifa’-nya nol dan sejak itu dia “wujud” (wujud ul hilal). Makin lama irtifa’ ini makin besar. Dalam 24 jam (sehari) dia akan naik sekitar 12 derajat. Namun tidak setiap bulan di atas horizon akan membentuk “wujudul hilal”. Pada konstelasi tertentu, di lintang tertentu, bisa saja bulan berada di atas horizon meski belum ijtima’ (wujud ul qomar). Karena itu irtifa’ harus digabung dengan umur bulan.
2. Rukyat ul Hilal
Rukyat ul Hilal adalah metode praktis membuktikan apakah bulan sabit baru (hilal) terlihat atau tidak. Sebenarnya tidak mudah melakukan rukyatul hilal, sekalipun bagi astronom. Dalam astronomi obyek langit yang biasa dirukyat dianjurkan di atas sudut 15 derajat. Sedang rukyatul hilal justru dilakukan saat irtifa’ bulan masih sangat rendah. Sebenarnya rukyatul hilal semestinya dilakukan setelah ijtima’. Namun secara syar’i rukyat selalu harus dilakukan setiap tanggal 29 Sya’ban atau Ramadhan tanpa melihat sudah ijtima’ atau belum. Secara metodologi, pada saat ini rukyatul hilal jarang dilakukan secara ilmiah, yaitu obyektif, terrekam dan replicable melainkan mengandalkan kesaksian orang yang dianggap jujur.
3. Imkanur Rukyat
Masalahnya angka imkan yang ada berbeda-beda. Kitab-kitab ilmu falak tua masih memakai 7 derajat. Di Turki memakai 5 derajat. Di Indonesia Jama’ah Persis konsisten memakai hisab mutlak dengan imkan 2 derajat. PBNU tetap akan merukyat namun akan menolak rukyat sementara irtifa’ masih kurang dari 2 derajat. Karena masalah imkan belum ada konsensus, Muhammadiyah akhirnya memutuskan memakai wujudul hilal. Dari sini kelihatan bahwa meski metode hisab sama, namun bila kriteria imkan berbeda, hasilnyapun bisa berbeda satu hari. Di manakah bulan pertama kali mungkin terrukyat (imkan awal) ternyata bisa di mana saja. Tidak ada sebuah tempatpun yang memiliki privileg. Semua tergantung kondisi aktual. Secara astronomi, bisa dibuatkan garis tanggal hijri (Hijri Date Line / HDL), yaitu suatu garis tempat-tempat dengan irtifa’ (wujud, imkan) sama saat matahari terbenam di masing-masing tempat. HDL ini tiap bulan bergeser dan berubah bentuknya. Yang pasti, faktor cuaca tidak bisa diprediksi dengan hisab astronomi, karena tidak ada hubungannya.
4. Zona Waktu
Ketika para pelaut Inggris mengelilingi dunia ke arah timur, mereka menghitung hari. Ternyata ketika kembali ke London dari arah barat, mereka dapatkan hari yang dihitung dalam perjalanan selalu lebih panjang sehari dari yang dihitung orang di London. Untuk menyelesaikan masalah ini, maka akhirnya para pelaut, geografer dan astronom sepakat untuk mendefinisikan suatu garis maya yang disebut garis tanggal internasional (International Date Line / IDL). Bila kita melintasi garis IDL ini, maka akan ada lompat hari. Meski kelihatan aneh, tapi garis maya ini harus ada agar ada konsistensi hari dan tanggal pada kalender internasional. Dan menurut garis tanggal ini pula kaum muslimin mendefinisikan nama-nama hari seperti Senin, Kamis, Jum’at dan sebagainya.
Melalui cara prediksi-prediksi diatas dapat memberikan jawaban atas astronomi islam dalam penetapan jadwal puasa.

Manfaat Puasa dalam Kesehatan

Manfaat Puasa dalam Kesehatan
Puasa merupakan salah satu ibadah dalam islam yang dikategorikan sebagai salah satu keajaiban dalam beribadah setelah berkembangnya ilmu pengetahuan. Puasa mempunyai tiga tendensi utama yaitu tendensi kejiwaan, tendensi dimensi moral, dan tendensi dalam hal kesehatan.
Para saintis baik muslim maupun non-muslim telah meneliti puasa dalam berbagai manfaat kesehatan. Diantaranya yaitu:
1. “Abdullah berkata, kami bersama Rasulullah adalah orang-otang muda yang tidak menemukan sesuatu (untuk melampiasan nafsu seksual). Kemudian, Rasulullah berkata, ‘Wahai para pemuda, barang siapa memiliki modal, maka hendaknya ia menikah karena hal itu lebih bisa menahan pada pandangan dan lebih bisa menahan pada kemaluan. Dan barang siapa tidak mampu, maka hendaknya ia berpuasa karena puasa adalah pengekang baginya.” (H.R. Al Bukhari No.5.006).
Berdasarkan hadis tersebut puasa dapat dijadikan solusi alternatif bagi orang-orang yang hasrat libidonya meluap-luap dan belum mampu untuk menikah. Solusi tersebut ditawarkan oleh Rasulullah sejak 15 abad yang lalu.
Bagaimana hasil penelitian yang didasarkan pada hadis tersebut? 
Hasil tes darah yang dilakukan menunjukkan bahwa hormon seks laki-laki (testosteron) mengalami peneurunan dengan frekuensi yang sangat tinggi ketika menjalani puasa selama sepuluh hari. Penurunan hormone terus berlangsung sampai tiga hari setelah diberi asupan makanan ketika menjalani tahap ketiga. Pada hari keempat terjadi peningkatan kualitas hormone testosteron dibandingkan sewaktu sebelum puasa. Jadi pusa disamping menurunkan mampu menurunkan hormone seks juga meningkatkan kualitas hormone tersebut. 
2. Menghilangkan racun dalam tubuh
Seorang ahli kesehatan Amerika, Makvadon menilis bahwa setiap orang butuh puasa meskipun ia tidak sakit karena racun-racun dalam makanan dan obat-obat kimia yang terkumpul dalam badan akan menjadikan seseorang tersebut seperti orang yang sakit. Semangatnya menurun dan tubuhnya berasa berat. Ketika puasa racun-racun dalam tubuh akan terurai lalu akan hilang dari tubuh.
3. Terapi penyembuhan penyakit
Menurut Dr. Yuli Nokelar dari Moscow Institute of Psychitery menyatakan bahwa upaya penyembuhan secara medis yang disertai dengan puasa hasilnya akan lebih baik dan lebih cepat. Hal ini telah dibuktikan oleh para pasien yang menjalani terapi puasa di Klinik Health Spa di Amerika. 
Selain manfaat-manfaat di atas masih ada beberapa manfaat lagi diantaranya yaitu menyehatkan organ pencernaan, meningkatkan kekebalan tubuh seta mencegah tibulnya penyakit.

Keistimewaan Angka Ganjil

KEISTIMEWAAN ANGKA GANJIL

Angka ganjil adalah angka yang tidak habis dibagi dua. Angka ganjil termasuk angka yang menarik dan istimewa, terbukti dari beberapa hal penting yang terjadi pada angka ganjil. Beberapa contoh hal yang terjadi pada angka ganjil dalam islam diantaranya adalah:
1. Sholat witir yang biasa dilakukan tiga rakaat
2. Tarawih yang menurut para ulama dilakukan 20 rakaat, ternyata diakhiri dengan witir. Begitu juga mereka yang melakukan tarawih 8 rakaat, mereka-pun meng-ahirinya dengan witir.
3. Ketika Nabi hijrah ke Madinah, pada bulan puasa, beliau berperang dengan kelompok orang-orang kafir Makkah. Jumlah pasukan Nabi Saw tidak banyak, hanya 113. Angka ini sangat menarik, karena jumlahnya gajil.
4. Peperangan itu terjadi tepat pada tanggal 17 hari jum’at bulan Ramadhan (tanggal gajil). Pertempuran itu dimenangkan oleh kaum muslimin dalam tempo tidak terlalu lama.
5. Malam Lailatul Qodar yang terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan di malam ganjil. Pada malam malam tersebut, biasanya penduduk Arab berbondong-bondong menuju Makkah guna menyambut detik-detik turunnya al-Qur’an (Lailatul Qodar). Bukan hanya di Arab, disebagian pelosok Negeri, masjid-masjid penuh dengan jama’ah tarawih, sedangkan tangal genap banyak yang absen, karena di anggab bukan malam yang sakral.
6. Jumlah rakaat sholat lima waktu yang berjumlah 17 rakaat.
7. Asmaul husnah yang berjumlah 99
8. Aqiqoh lebih afdhal dilakukan pada hari ke-7 setelah hari kelahiran bayi walapun bila dilakukan pada hari lainnya diperbolehkan
9. Allah SWT juga menciptakan langit dan bumi tujuh lapis.
10. Allah juga menjadikan hari ada tujuh dalam sepekan.
11. Neraka Jahannam ada tujuh pintu.

Keistimewaan angka ganjil terdapat pada Hadits Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi “Sesungguhnya Allah itu witir (esa / ganjil) dan suka pada yang ganjil”. Dan perlu diingat bahwa dalam Islam tidak dikenal angka keberuntungan ataupun angka pembawa sial. Semua angka atau bilangan baik genap maupun ganjil itu baik. Karena itulah arti pentingnya Allah SWT bersumpah dengan yang genap dan yang ganjil (QS. Al Fajr (89) : 1-3). 
Artinya :
1. demi fajar,
2. dan malam yang sepuluh,
3. dan yang genap dan yang ganjil,

Ikhlas Bersedekah Berdasarkan Konsep Matematika

<Ikhlas Bersedekah Berdasarkan Konsep Matematika>

Salah satu ajaran terpenting dalam Islam adalah mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah. Bahkan kepedulian untuk berbagi harta kepada sesama manusia itu menjadi salah satu indikator orang bertakwa (muttaqin) seperti yang diisyaratkan dalam QS al-Baqarah: 2-3

ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين الذين يوءمنون بالغيب و يقيمون الصلوة و مما رزقناهم ينفقون

‘Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.’

Anjuran berbagi baik melalui infak, sedekah maupun zakat bukan sekedar kewajiban melainkan mengandung nilai investasi baik di akherat maupun di dunia. Nilai investasi akherat tentu berupa pahala yang mengantarkan ke surga yang memberikan kebahagiaan tak ternilai. Hal ini dapat ditelaah dari QS al-Baqarah: 261

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

‘Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah sama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai tumbuh 100 biji. Allah melipat gandakan (balasan) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.’

Menafkahkan sebagian harta di jalan Allah biasanya akan terasa berat dibandingkan dengan menafkahkan sebagian harta di jalan setan. Karena itu Allah menyediakan ganjaran pahala yang besar sebesar 700 kali lipat bahkan hingga jumlah yang tak terhingga. Jika kandungan ayat ini dicermati, maka dapat diketahui bahwa nilai pahala atau balasan yang akan diterima si pemberi berbanding lurus dengan nilai keikhlasannya saat berbagi atau memberi kepada orang lain. Dengan kata lain berbanding terbalik dengan besar harapan memperoleh imbalan/balasan dari pemberiannya itu.

Kandungan ayat ini dapat dijelaskan dengan pendekatan matematika melalui pembagian. Dalam sistem pembagian terdapat tiga komponen, yakni:
• Penyebut melambangkan pemberian (dengan simbol P)
• Pembagi melambangkan harapan si pemberi (dengan simbol h)
• Hasil melambangkan jumlah balasan yang bisa diterima dari si pemberi (H).
Rumusnya adalah Pemberian / harapan = Hasil

Misalnya: Seseorang memberikan sedekah atau infak sebesar Rp. 1 juta kepada orang miskin dengan harapan yang berbeda-beda. Orang tersebut akan memperoleh balasan yang berbeda-beda pula yang dapat diilustrasikan sesuai dengan rumus di atas:
1 jt/100 jt = 0,01
1 jt/10 jt = 0,1
1 jt/500.000 = 2
1jt/100.000 = 10
1jt/50.000 = 20
1jt/10.000 = 100
1jt/1.000 = 1.000
1jt/0 = ∞ (tak terhingga)

Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa semakin besar harapan si pemberi akan mendapat balasan dari selain Allah maka akan semakin kecil nilai balasan yang akan diperoleh secara riil. Sebaliknya, semakin kecil harapan si pemberi akan mendapat balasan dari selain Allah, maka akan semakin besar nilai balasan yang akan diperoleh secara riil. Besar kecilnya harapan kepada selain Allah itu dalam ajaran Islam disebut IKHLAS. Jelasnya, semakin ikhlas dalam memberi maka akan semakin kecil pengharapannya kepada selain Allah. Bahkan dalam tataran tertentu jika yang bersangkutan mengosongkan harapannya kepada selain Allah, maka Allah akan berkenan memberikan balasan yang tak terhingga jumlahnya secara riil. Itulah IKHLAS yang sebenarnya.

Karena itu pula ikhlas tidak didasarkan kepada ucapan si pemberi, misalnya: "saya beri dengan ikhlas" sebab yang tahu pemberian itu ikhlas atau tidak, hanyalah Allah dan si pemberi. Yang menjadi tolok ukur keikhlasan dalam berbagi kepada sesama adalah niat, dan niat itu ada dalam hati sehingga tiidak bisa direkayasa dengan ucapan seolah-olah ikhlas.

Bukankah dalam realitas banyak orang yang memberi karena mengharapkan sesuatu kepada manusia, baik berupa pujian, imbalan materi, kedudukan, status sosial dan sebagainya. Namun terkadang merasa kecewa lantaran harapannya tak terwujud. Membagi-bagi uang atau sembako kepada calon pemilih, memberi sumbangan kepada panitia pembangunan masjid, majelis ta’lim dengan harapan agar mereka berkenan memilihnya dan jika menang dalam pemilihan maka akan memperoleh gaji plus tunjangan besar sehingga bisa memperoleh uang atau harta yang banyak. Namun ternyata harapannya melesat sehingga mengalami kerugian.

Puasa dan Kecepatan Cahaya

---{PUASA DAN KECEPATAN CAHAYA }---
Oleh: Ahmad Mukhlas 
Orang berpuasa pada hakikatnya menuntun menuju cahaya. Manusia diciptakan dari sari pati. Sehingga manusia tidak mampu menuju dimensi lain dengan tubuh manusia itu sendiri. Karena tubuh manusia ini merupakan instrumen bagi ruh untuk hidup di dunia. Dapat dianalogikan seperti orang menyelam ke laut dan dia menggunakan pakaian khusus untuk menyelam. Orang itu merupakan ruhnya. Pakaian selamnya merupakan instrumen atau wadah bagi ruh untuk menyelam di dunia yang fana ini. Sementara tabung oksigen yang dibawa penyelam dianalogikan batas waktu umur kita dalam menyelam di samudra kehidupan. Kehidupan dunia penuh keindahan yang menyilaukan seperti keindahan bawah laut yang menggiurkan. Banyak ikan-ikan kecil indah dengan beranekaragam warna dan bentuk, pesona bawah laut dengan terumbu karang yang cantik sangat menggiurkan bagi para penyelam.
Dalam menyelam di dasar laut kita mempunyai tugas mencari mutiara yang menjadi tujuan kita menyelam, sebelum tabung oksigen yang kita gunakan habis di pertengahan jalan. Begitu juga manusia ketika berenang dalam kehidupan dunia, mereka harus menemukan hakikat pencarian hidupnya yaitu hanya untuk Allah Tuhan yang paling berkuasa. Sebelum habis jatah usia yang diberikan pada manusia.
Selain berbagai macam bentuk ibadah, salah satu cara yang dianjurkan untuk dekat pada Allah adalah dengan berpuasa. Berpuasa menjadikan lebih dekat, hati terasa nyambung pada-Nya. Semua perasaan angkuh, sombong dan semua penyakit hati lain menjadi lunak dengan sendirinya.
Jika puasa dalam Al Qur’an, Hadits dan kitab-kitab lain dijelaskan waktunya, tata caranya, keutamaannya. Maka hakikat puasa sebenarnya adalah jalan atau cara untuk melihat Allah sebelum di surga. Karena besok di surga kita diberi kenikmatan luar biasa, mampu melihat Allah secara langsung. Akan tetapi, puasa merupakan jalan pintas atau jalan tol penghubung menuju Allah. Kenapa bisa seperti itu? Dalam fisika puasa dijabarkan sebagai bentuk manifestasi dari teori relativitas cahaya E=mc2.  Teori temuan Einsten, yang mana manusia belum mampu menemukan suatu alat yang bergerak secepat kecepatan cahaya, tiga kali sepuluh pangkat delapan meter perdetik. Jadi berpuasa menjadikan manusia telah menuju waktu yang belum pernah dia sentuh sebelumnya dengan instrumen berupa raga ini.
Dengan berpuasa semua massa tantang hal-hal duniawi seperti keinginan nafsu menjadi berkurang sedikit demi sedikit dan akhirnya hilang. Sehingga kita dapat bergerak menuju kecepatan cahaya. Inilah yang dimaksud dengan hubungan antara massa dan energi. Sementara kerapatan massa dan energi sama dengan kelengkungan ruang dan waktu. Jika massa mampu ditekan, energi menuju kecepatan cahaya semakin tinggi, maka ruang dan waktu menjadi melengkung dan mampu dilampaui. Karena waktu bersifat relatif. Seperti halnya jika kita berpuasa kita menunggu waktu berbuka puasa dengan cara diam saja dan dengan cara melakukan aktivitas maka akan berbeda. Jika kita hanya diam diri dan menunggu waktu, maka waktu akan terasa lama. Tapi berbeda jika kita menunggu waktu berbuka puasa dengan cara melakukan aktivitas lainnya, maka waktu akan terasa cepat. Begitu juga ketika kita tidur, maka waktu akan terasa cepat. Oleh karena itu, waktu dikatakan relatif. Karena pada hakikatnya orang tidur bergerak menuju kecapatan cahaya. Begitu juga orang yang sehari duduk dan akalnya terus bergerak berfikir pada satu tujuan maka waktu akan terasa cepat karena dia bebas dari waktu. Ini menjelaskan kenapa orang zaman dahulu suka tirakat, tahajudya kenceng di malam hari yang sunyi, meditasi atau bertapa di tempat-tempat sepi. Itu hakikatnya karena mereka ingin menuju kecepatan cahaya agar mereka mampu bersama Tuhan-Nya, lebih dekat dengan Allah. Maka dari itu, dalam Al-Qur’an sendiri dijelaskan bahwa cahaya Allah itu tak mampu dilihat secara langsung dengan mata manusia kecuali Nabi Musa yang mampu melihat secara langsung dengan mata kepalanya yang tentunya dengan seizin-Nya. Itu karena mata manusia ini masih ada massa yang menghalangi untuk menuju kecapatan cahaya. Dan dari semua kecepatan cahaya tersebut, ada cahaya Allah yang berada diluar kemampuan pemahaman dan pengukuran manusia. Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat Al-An’am [6] ayat 103, bahwasanya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Luas Lagi Maha Mengetahui.”  Cahaya Allah sendiri dijelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nur [24] ayat 35: “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Gagasan tentang kecepatan cahaya diperikan oleh Al-Qur’an melalui ayat-ayat mengenai kilat. Kilat ini memekakkan telinga pendengarnya pada saat berkilau terang, tetapi suaranya beru terdengar setelahnya. Ada dimensi mikroskopik pada elemen waktu:
“Tidaklah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. An-Nahl [16]: 77).
“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti sekejap mata.” (Q.S. Al-Qomar [54]: 50).
“dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.” (Q.S. Qaf [50]: 16).
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat. (Q.S. Al-Waqi’ah [56]: 85).
Selain hal-hal yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut, dijelaskan pula dalam konteks yang berbeda dan dalam ayat yang berbeda juga. Dalam Al-Qur’an surat An-Naml [27] ayat 38-40:
“Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah diantara sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”
Berkata Ifrit dari golongan jin: “Aku akan datangkan kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip...”
Ini mengisyaratkan, salah satunya adalah bahwa ada kecepatan yang mampu membawa singgasana dalam sekejap mata. Kecepatan ini yang tak mampu dilihat mata indrawi, sehingga butuh pendalaman lebih untuk mampu mengurai kecepatan yang dimaksudkan seberapa cepat.
Nah dalam konteks sekarang, kecepatan yang masih belum dapat dikalahkan kecepatannya menurut pengamatan manusia, adalah kecepatan cahaya. Kemungkinan kecepatan yang digunakan oleh seorang yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah kecepatan cahaya.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa kecepatan cahaya merupakan salah satu pengejawantahan dari rahasia puasa. Bahkan jarak yang begitu jauh dapat dilampaui orang yang berpuasa. Jika lamanya waktu diruang angkasa dikatakan dengan satuan "tahun cahaya". Seperti dalam Al-Qur’an Surat As-Sajdah [32] ayat 5:
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Q.S. As-Sajdah [32]: 5).
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (Q.S. Al-Ma’arij [70]: 4).
“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu,” (Q.S. Al-Hajj [22]: 47).
Maka dengan puasa, jarak yang jauh tersebut dapat dijangkau, bahkan jaraknya yang sangat jauh sampai ribuan tahun cahaya sekalipun.
Selain itu, persepsi tentang waktu juga berbeda-beda. Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 112-114).
Sudah tentu bahwa persepsi tentang waktu yang diterangkan dalam ayat Al-Qur’an tersebut sangat berbeda dengan waktu yang terdapat di dunia. Waktu itu relatif dan berhubungan degan kecepatan, serta puasa sangat berperan di dalamnya.

---{***}---