Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Februari 2013

Cintaku Bertaut di Perpus



Awalnya Gue agak heran juga dengan pengunjung perpus yang belakangan ini lebih ramai dari biasanya, tapi bisik-bisik para cowok itu akhirnya sampai juga ditelinga gue. Tenyata penyebabnya adalah kecantikan sang pegawai perpus yang katanya mencapai titik kulminasi batas normal itu (ribet banget ye..).
“Sebuah kecantikan yang berdampak sistemik”, begitu bunyi rerumpian para kaum adam sekampus. Gue pun penasaran, secara kayaknya belakangan ini tidak ada satu makhluk-pun diperpus yang ciri-cirinya disebutin itu.
Akhirnya tibalah saat dimana nasib mempertemukan gue dengannya...
Gue yang saat itu sedang nyari buku Metode penelitian, sedang kebingungan mencari alamat buku itu...gue awalnya mau lapor polisi suruh nganterin ke alamat buku Metopen ini, tapi gue takut kalau nanti malah dianterin ke percetakannya atau dianterin ke RSKOA (rumah sakit khusus orang alay). Ya udah, gue pasang muka bingung aja supaya ada pegawai perpus yang kasihan sama gue dan nulungin gue nyari alamat sang buku. Akhirnya datanglah seorang cewek menghampiri gue, alamak....SESUATU BANGET...
Gue gugup, keluar keringat hangat...
Gue pun malah menawarkan bantuan duluan ke dia, ”ma..maaf mbak, ada yang bisa saya banting...eh bantu?”
”Hmmm..tadi masnya kelihatannya yang butuh bantuan deh” kata mbaknya sambil tersenyum tipis..
Gue tersenyum garing, ”Saya mau nyari buku Metode penelitian, mbak.”
”O, Metopen...karangannya siapa mas?”
Hah mbaknya yang cantik tanya siapa pengarang buku Metopen yang gue cari?, gue aja baru pertama nyari buku Metopen...sudah ditanya karangan siapa. Cuma ada dua pengarang buku yang gue tahu, Raditya Dika dan satunya lagi Empu Prapanca. Dan gue yakin Metopen yang gue cari bukan karangan mereka. Gue pun ngasal dengan nyebutin ketua PSSI yang akhir-akhir ini memang sedang diperbincangkan orang, ”Emmm...karangannya Profesor Djohar Arifin mbak.”
Mbaknya pun mencarinya lewat komputer pencarian, tapi nggak ditemukannya..(ya jelas saja nggak ditemuin, sejak kapan Pak Djohar nulis buku Metopen?)
Mbaknya-pun mau menanyakan buku yang saya maksud ke bapak-bapak yang jadi senior utama diperpus. Tapi sebelum dia balik dari bertanya ke bapak-bapak itu gue udah kabur duluan sambil membawa sebuah pertanyaan untuk mbaknya...
Mbak yang cantik, namanya siapa ye..?
Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,
....................................................................
Pesona mbak penjaga perpus yang baru itu membuat tidur gue nggak enak, makan pun juga nggak nyenyak (kebalik ya? Whatever), mirip lagunya Armada jadinya. Apakah gue sedang dimabuk cinta?
Semakin hari, gue semakin kangen sama mbaknya. Tapi gue bener-bener nggak tahu siapa mbak-nya itu. nama nggak tahu, nama Fb-pun nggak tahu, apalagi nomer HP, nggak tahu juga. Kemana...kemana...kemana, kemana gue harus menacari informasi tentang mbaknya?
Gue curhat ke temen-temen gue, curhat ke abang-abang tukang somay, curhat ke tukang laundry-an disebelah kos, siapa tahu dari mereka ada yang tahu tentang mbak penjaga perpus itu. Tapi mereka semua tak tahu. Justru mereka semua membuat gue nyadar kalau gue tuh bego banget, ”kenapa elo nggak ke perpus lagi. Lalu kenalan sama mbaknya langsung?” begitu mereka memberikan saran ke gue. Ternyata hasil reaksi antara sifat kealayan dengan terlalu sering nonton sinetron dapat menciptakan produk bernama Dramatisiriusbegous.
Pagi harinya, Gue kembali bertandang ke perpus, dengan sebuah misi untuk berkenalan dengan mbaknya. Terlihat disana, mbaknya sedang beres-beresin buku. Beberapa langkah dari tempat mbaknya berdiri, aroma wangi sudah tercium hidung gue. Wanginya bukan seperti wangi trasi digoreng sob..ini wangi parfum, tapi ini bukan parfum biasa. Sangat wangi, gue nggak bisa ndefinisiin wanginya seperti apa. Pokoknya membuat jantung para lelaki berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang (alah..).
“Mmm..Mbak...” sapa gue dengan gugup. DNA jomblo gue memang membuat gue terserang gagapgugupitis kalau sedang ndeketin cewek.
Mbaknya noleh..sekejap itu juga hati gue berdzikir, ”Subhanallah”..
”A.a..ada apa mas?” mbaknya ikut-ikutan gagap. Nggak deng..
”Saya yang kemarin nyari buku metode penelitian mbak”
Mbaknya mulai teringat sosok gue yang mempesona naudzubillah kemaren..
”Oh..yang karangannya Profesor Djohar Arifin itu ya mas. Sayang sekali mas, buku tersebut belum tersedia di perpustakaan ini” mbaknya mencoba menjelaskan. Tapi gue nggak merhatiin apa yang diomongin. Mata gue kosong. Pesona mbaknya benar-benar menghipnotis gue. Manis wajahnya, baunya parfumnya, suaranya yang seksi itu... semuanya. Lama-lama kalau begini, gue nge-kos diperpus aja.
”mas..mas” suara mbaknya menyadarkan gue dari lamunan.
”Oh gitu ya mbak” gue berusaha menutupi aib kegoblokan gue. Sejenak gue teringat misi utama gue hari ini: kenalan sama Mbak cantik dihadapan gue.
”Eh, mbaknya punya pistol nggak?” gue memakai cara lama untuk berkenalan sama cewek dengan bertanya apakah si cewek punya barang yang kita asal saja nyebutinnya yang sekiranya si cewek nggak punya atau nggak bawa barang itu. Lalu ketika mereka bingung dengan apa yang kita maksud, kita dengan mantap bilang, ”kalau nama punya kan?”. Ide super kampret ini gue dapet setelah berguru selama dua hari dua malem di Padepokan Kampret dengan guru utama Syaikh Kampreduddin.
Mbaknya kelihatan bingung. Dan gue langsung bilang dengan mantap, ”kalau nama punya kan?”
Mbaknya senyum. Aih..senyumnya manis sekali. Mungkin aja sekarang kadar gula darah gue mencapai titik tertingginya (sepertinya habis dari perpus gue harus pergi ke rumah sakit untuk ngecek kadar gula. Siapa tahu habis melihat senyum mbaknya gue terkena diabetes meletus).
Sejenak mata kita bertemu. Sepertinya telah terjadi chemistry diantara kita. Sayup-sayup terdengar lagu ”Bila kau jatuh cinta”-nya Nidji. Gue berharap suasana ini nggak cepet berakhir...
”Santi kesini...” sebuah suara memecah keromantisan suasana itu.
”Sorry mas..” mbak penjaga perpus meninggalkan gue yang mematung tanpa bisa bergerak mungkin karena kadar gula yang sudah terlalu tinggi, namun gue nggak kecewa karena gue sekarang tahu nama bidadari cantik ini: Santi!.
-----
Oleh : Mischa Arifin

Senin, 10 September 2012

Karbon Si Tangan Empat


 “Malam sunyi kuimpikanmu
kulukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
adakah aku dimimpimu…..
Dihatiku terukir namamu
cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
adakah aku dihatimu…?

Malam makin larut, suara lagu simfoni hitam sherina masih menggema. Tapi mataku sedikitpun tidak bisa kupejamkan. Aku rindu khlor, kenapa….harus seperti ini, kenapa aku tak berani mengatakan cinta padanya, dan kenapa khlor tak pernah tertarik padaku, padahal unsur-unsur lain banyak yang ngantri  ingin berhubungan (berikatan) denganku. Hmm…….Khlor sampai kapan aku harus menanti ini semua, aku cape berharap terus padamu tanpa henti, sampai kapan cinta ini kan terbalas, aku hanya bisa memandangmu tanpa bisa mengatakannya, aku hanya bisa tersenyum hambar melihatmu menikah bersama Natrium, tapi aku tidak tahu apakah hatiku juga ikut bahagia. Khlor….apa pantas aku jadi selingkuhanmu seperti layaknya klan alkali, apa pantas aku jadi kekasihmu, aku mencintaimu khlor bisakah kau merasakannya, apa karena aku sering dijuluki si tangan empat jadi kau lebih memilih golongan alkali daripada aku, Sebenarnya ini bermula dari keunikanku yang memiliki elektron valensi 4 akibat nomor atomku yang berjumlah 6 saja. Hal itulah yang menyebabkan aku dijuluki si tangan empat. Entah siapa yang memulai memberikan julukan seperti itu tahu-tahu julukan itu sudah melekat ditubuhku,  Padahal menurut etimologi namaku Karbo yang berarti batubara.  Ah dasar sialan!

Khlor Meski aku tak secantik Natrium atau unsur-unsur lain, bahkan warna kulitku terkadang juga hitam tapi banyak sesama Karbon maupun banyak jenis unsur lain, ngantri ingin berhubungan (berikatan) denganku, apa kau tahu itu Khlor? Bahkan aku dapat membentuk  ikatan tunggal, ikatan rangkap, dan ikatan rangkap tiga juga dapat membentuk rantai lingkar (siklik). Tapi mengapa kau tetap saja memilih Natrium, cinta bagiku memang tak cukup satu, aku sering juga jalan dengan Hidrogen, Nitrogen,  Oksigen bahkan juga keluarga besarmu keluarga Halida sering jalan denganku tapi mengapa kamu sendiri lebih memilih Natrium? kalau itu yang menjadi alasanmu bukankah kau juga terkenal dengan playboy nya, ah…dasar misteri lelaki…..

“Aku ingin engkau ada disini menemaniku saat sepi
Menemaniku saat gundah
Berat…hidup ini tanpa dirimu
Kuhanya mencintai kamu
Kuhanya memiliki kamu
Aku rindu setengah mati kepadamu
Sungguh ku ingin kau tahu aku rindu
setengah mati…………..”

Suara lagu rindu setengah mati D’masiv terus berbunyi dari ponselku
“Eh..khlor!, benar khlor…benar kata orang kalau kita ingat seseorang maka orang itupun akan ingat sama kita, duh gimana ya……angkat gak ya, aku harus mengangkatnya kapan lagi ada kesempatan seperti ini”
“Hallo………! kataku hampir jantungan saking gembiranya
“Iya hallo” kata khlor diseberang
“Sapa ya” jawabku pura-pura tidak kenal
“Oh, ni sama karbon kan? Aku khlor….Cuma mo ngasih tahu kata manusia lab besok kita mesti jalan bareng  jadi pelarut (CCl­4), siangnya kau juga bisa mengajak kekasihmu hidrogen, kita sama-sama bisa membantu manusia menjadi obat bius (CHCl3) kau bisa kan?”

Lama tidak ada jawaban, bukan apa-apa aku sungguh tidak percaya ini semua
“Kar…” kata Khlor diseberang
“Eh…iya..iya…,aku bisa khlor, makasih ya tas ajakannya, tapi ngomong-ngomong Hidrogen bukan kekasihku kok he..he..”aku mencoba berbohong
“Hmm……….bukan ya, kalau begitu aku bisa kan jemput kamu”
“Yes…!!”kataku lupa kalau khlor masih mendengarkanku
“Kar..!ada apa? Kamu keberatan ya aku jemput?”
“Engg..enggak kok, aku suka…oke aku tunggu”
“Tapi aku tidak tahu rumah kamu dimana, bolehkan minta alamatnya?”
“Oke khlor alamatnya catat ya,…aku tinggal di jalan nomor 2 blok IVA dengan nomor rumah enam di kota sistem periodik Unsur”
“Oke besok aku jemput kamu kar, jangan kemana-mana ya”
“Oke aku tunggu”
“Kenapa belum ditutup “kataku lagi
“Mmm….gak papa…sebenarnya aku sudah lama menunggu ingin jalan sama kamu dan karena ada perintah langsung dari manusia lab, akupun merasa ada alasan untuk mengajakmu jalan, maaf ya Kar, tidak seharusnya aku berkata seperti itu”
Ya tuhan ternyata khlor juga memiliki perasaan yang sama seperti aku
“Kar…kau marah ya, maaf aku berkata tidak sopan padamu”
“Gak papa aku juga suka kok kau berkata seperti itu”
“Oke besok aku jemput, selamat malam”
“Malam”
Ya tuhan…aku tidak pernah sebahagia ini, manusia lab memang selalu mengertiku…adik-adikku kemana ya…
“Silikon…! Germanium…! Timah…!”teriakku memanggil adik-adikku

“Ada apa sih kak, mereka sudah pada tidur? Timbal adikku yang bungsu menjawab.
“Eh sudah tidur ya, ni kan masih sore…kenapa cepat-cepat tidur, sini-sini kakak mau cerita”
“Ini sudah larut malam kakak, besok aja ceritanya”
“Sudah larut ya, ya sudah kakak juga mau tidur”
“Ya tuhan aku berharap ini semua bukan mimpi” kataku menjelang tidur.

Arsen Si Pembunuh Bayaran


Siang ini aku duduk didepan rumahku di gang 4 blok VA nomor 33 di kampung kami sistem periodik unsur , aku berusaha mengingat kembali tentang semuanya, tentang tawaran manusia untuk melakukan hal yang menurutku itu sangat menjijikan untuk aku ulangi lagi, yaitu pekerjaan membunuh. Sudah lama aku jadi pembunuh bayaran, dan sebenarnya aku ingin berhenti dari pekerjaaan menjijikan ini, tapi lagi-lagi aku tak bisa. Manusia-manusia itu lebih mempercayaiku daripada teman-temanku seperti halnya sianida atau yang lainnya. Karena katanya pekerjaanku sangat rapi, dengan menyusup lewat makanan racunku menyerang sistem pencernaan manusia yang akan kubunuh sehingga dia mati seolah-olah seperti karena shok.

Sebenarnya aku sudah lelah dengan pekerjaan seperti ini, dan tak ingin mengulangnya lagi, sejak pembunuhan Napoleon Bonaparte aku sebenarnya telah berjanji untuk tidak membunuh lagi, tapi lagi-lagi korban jatuh di tanganku. Tahun 2004 saja aku membunuh seorang aktivis HAM Munir dari indonesia dan kini manusia itu datang lagi padaku menyuruhku membunuh seorang temannya hanya karena takut tersaingi dalam perebutan jabatan sebagai direktur sebuah perusahaan.
“Ahhh….ini benar-benar bisa membuatku gila, kenapa sih dikalangan manusia itu selalu saja ada yang serakah, kenapa mesti cemburu pada keadaan? bukankah tuhan itu tidak menempatkan kita pada tempat yang sama?.
“Arsenik..” seseorang menyapaku perlahan.

Aku segera membalikkan badan, dan kulihat disana fosfor kakakku menghampiri. Dalam keluargaku aku sebenarnya unsur yang paling dekat dengannya daripada dengan kakaku yang satu lagi Nitrogen atau dengan adik-adikku Antimon atau Bismut. Sehingga dalam karakteristik secara kimiawi aku lebih mirip dia, dia suka memanggilku arsenik atau dengan bahasa yunani namaku Arsenikum.

“Ada apa kak?”
“Katanya mau bakti sosial pada manusia, kok malah melamun disini?”
“Iya kak, bentar lagi juga berangkat”
“Kulihat akhir-akhir ini kau sering melamun sen,ada masalah dengan pacarmu khlor? Dan kulihat kalian tidak sering berjalan bersama lagi. Malah sekarang kau lebih aktif membantu manusia, mencuci kerislah, membasmi hama dan tikuslah, pengawet kayulah, dan sekarang adikku ini mau bakti sosial apalagi?”

Aku tersenyum melihat matanya berbinar-binar, sejak dulu , sejak aku baru saja ditemukan oleh Albertus Magnus tahun 1250 dan dipertemukan dengannya di kampung SPU, mata itu tak pernah berubah, dia senantiasa berusaha jadi kakakku yang baik
“Eh di tanya malah senyum-senyum, atau jangan-jangan kau sedang jatuh cinta lagi sen?”
“Gak lah kak, aku dan khlor akhir-akhir ini cuma sedikit renggang aja, tapi kami baik-baik saja kok. Sekarang aku mau membantu manusia menyepuh perunggu, membuat bahan cat, keramik, elektronik,  efek kembang api,   zat warna atau pencelup, industry kulit, pengeras timah hitam, serta pembeningan kaca. ”

” Ckkk…ckkk…kau hebat sen, selain oksidamu ampoter ternyata kau juga banyak aktif membantu manusia, aku bangga padamu Sen, tapi sebelumnya kakak khawatir kau berjalan-jalan kekalangan manusia soalnya kakak takut ada yang menyuruhmu lagi untuk membunuh, bukan apa-apa sih, nyawa itu berharga Sen, apa kau masih ingat waktu dulu itu, waktu kau membunuh aktivis HAM yang bernama Munir itu, sampai-sampai heboh di buatnya, dan kampung kita juga di buat gegerkan. Bahkan kau juga yang sebelumnya dipercaya untuk pengobatan dalam bidang homeopati, gara-gara suka dijadikan racun pembunuh jadi tidak dipercaya lagi kan”

“Iya kak, aku kan berusaha untuk menolak jadi pembunuh bayaran lagi, ya udah aku berangkat dulu kak”

“Baiklah, hati-hati jangan sampai tubuhmu menyentuh makanan para manusia Sen!”

“Iya, aku tahu kak, tubuhku kan beracun, aku pasti hati-hati”

Begitulah kawan dengan kakakku fosfor, apa yang harus kukatakan padanya kalau saja dia tahu aku akan membunuh lagi, maafkan aku kak, aku tidak kuasa untuk menolaknya. Malam ini kemungkinan satu orang lagi akan jatuh di tangan racunku. Malam ini, aku akan menyusup lagi lewat makanannya untuk membunuhnya, maafkan aku kak, ijinkan aku satu kali saja melakukannya lagi. Sudah itu aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi, lagipula mungkin setelah ini, aku kan di larang berjalan-jalan dikalangan manusia lagi, mungkin kau sudah bosan mendengar janji-janjiku kak, karena tiap kali aku membunuh, aku selalu berjanji padamu untuk tidak mengulanginya lagi, tapi kali ini, setelah aku menyelesaikan semuanya, aku benar-benar berjanji padamu untuk tidak mengulanginya lagi.

Ahh…aku jadi bingung, harus membunuh apa enggak ya? Khlor kemana lagi? padahal pada saat gini seharusnya dia ada disampingku, apa masih mengurusi pacarnya sinatrium itu, aku heran, padahal dia kan playboy tapi masih saja mempertahankan hubungannya dengan sinatrium itu, apa sih kelebihan dia? Sampai-sampai khlor tidak rela untuk melepasnya. Hah…! kenapa aku tidak pergi saja pada oksigen, dia jugakan kekasihku (As3O2), tapi…bagaiman kalau nanti ketahuan sama khlor? Peduli amat dah, siapa tahu dari oksigen aku bisa tahu kabar hubungan khlor dengan natrium.

Catatan Harian Natrium


Cinta…. apa yang sedang terjadi….
Seminggu tanpa berita….
Seminggu tanpa cerita….
Seminggu juga tanpa bicara…..
Dan cinta…. sedang apakah dirimu…..
Mengapa tak ada kabar…….
Mengapa tak jua datang……

Suara lagu serpihan sesal maia terdengar lembut diantara gerimis hujan terakhir yang mengembun pada kaca jendela. Mataku masih memandang lurus kearahnya,  kearah jendela yang ada di seberang sana tepatnya di gang no 4 blok VIIA dengan nomor rumahnya 35.

Dia adalah bromin adiknya khlor, dulu aku pernah menjadi kekasihnya (NaBr), namun rahasia ini tidak pernah aku ceritakan pada khlor sampai sekarang, dan semenjak aku menikah dengan khlor, dia maksudku bromin tidak pernah sedikitpun  menyapaku, entah karena sakit hati padaku atau karena dia sangat menghormati kakaknya khlor. 

Hanya kalau dilaboratorium sajalah dia menyapaku, itu juga harus dengan bantuan manusia lab.  Sebenarnya aku kasihan padanya karena dalam keluarga halogen keluarga suamiku, dia satu-stunya unsur yang berbeda dengan yang lainnya, disebut berbeda karena khlor dan flour tubuhnya itukan berbentuk gas, sedang yodium dan astatin berbentuk padatan sedang dia sendiri tubuhnya berbentuk cairan, coklat kemerahan lagi, apalagi katanya  kalau pekat maka akan semakin merah.

“Hai…lagi ngapain sih?”tiba-tiba khlor masuk kamar
“Gak, lagi merhatiin adikmu, kasihan ya, sepertinya dia kesepian khlor..”
“Dia itu memang suka begitu, ya maklum saja dia kan tubuhnya cair beda dari aku, kakak juga adik-adikku, makanya kadang suka begitu, seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupnya, tapi biasanya ia pergi dengan perak (AgBr) untuk membantu film fotografi manusia.”

Apa mungkin bromin seperti itu karena kecewa aku menikah dengan kakaknya, tapi itukan dulu, ah…tidak mungkin bukankah dia juga pernah jadi kekasih magnesium (MgBr2) atau dengan kalium (KBr). Kataku dalam hati
“Kau tahu ketika dia pertama kali  tahun 1826 ditemukan ilmuwan Antone dan Jerome balard, sejak itu banyak manusia memburunya“
“Oya…aku kurang begitu hapal tentang hal itu, terus dia diburu untuk apa?”
“Biasanya dia dijadikan Etilbromida kemudian oleh manusia dipaksa bercampur dengan Bensin yang bertimbal pada kendaraan.

Tujuannya agar dia bisa memaksa Timbal agar tidak melekat pada silinder piston. Dia paling benci pekerjaan itu karena katanya kalau sudah jadi gas buangan dia bersama Timbal bisa membahayakan lingkungan manusia, dia lebih senang jadi obat penenang, desinfektan, fumigant, pembuatan senyawa organik dan membantu manusia memadamkan api”

“Oh..ternyata ceritanya seperti itu…?”
“Ya begitulah, tapi ngomong-ngomong kau lihat dia dari apanya sampai-sampai kau dulu mau jadi kekasihnya,padahal dibanding dia lebih ganteng kakaknya kan?”kata khlor tiba-tiba sambil tersenyum
“Ye…siapa lagi yang pernah selingkuh sama adikmu”kataku mengelak
“Jangan mungkir tuan putri…dikiranya Bromin tak pernah cerita gitu?”
“Enggak, gak pernah…”
“Ha..ha…mukamu langsung merah, benar kan gak pa-pa kok, asalkan jangan sekali-kali lagi dia mau menggoda kakak iparnya lagi, ya kan..”

Aku mengangguk pelan “Dasar sialan bromin gak bisa jaga rahasia” umpatku dalam hati.

Januari 2010 saat pesta kembang api tiba
Hmm… kau tahu saat pergantian tahun baru adalah saat dimana aku dan saudara-saudaraku merasa sangat bahagia. Kenapa? Karena pada saat pergantian tahun aku dan saudara-saudaraku waktunya menjadi agen pemberi warna pada  pertunjukkan pesta kembang api. Ini merupakan pertunjukkan akbar kami setiap tahun karena seluruh manusia akan melihat kami dengan perasaan bahagia, seakan-akan pertunjukan kami bisa melebur masalalu mereka yang pahit dan memberi harapan yang baru dimasa depan bagi mereka.

Biasanya yang ikut dalam pesta kembang api itu aku, kakakku Litium, Stronsium, Barium, Magnesium dan adikku Kalium. Pada saat kembang api, Stronsium dan Litium mempertunjukkan warna merah. aku mempertunjukkan warna kuningku. Kalsium oranye, Barium hijau, Tembaga biru sedang yang ungu biasanya campuran antara garam Stronsium dan garam Tembaga. Karena Stronsium memberikan warna merah dan Tembaga memberikan warna biru maka campuran kedua garam ini akan menghasilkan warna ungu. dan yang mempertunjukkan putih/silver yaitu Magnesium tapi kalau tidak ada Magnesium biasanya ada Titanium atau Aluminium yang menggantikan.

Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, aku dan saudara-saudaraku tahu warna masing-masing yaitu saat kami melakukan uji nyala. Sejak uji nyala tersebut kamipun dipercaya oleh manusia untuk menjadi agen pemberi warna pada pesta kembang api setiap pergantian tahun. Tugas ini sudah menjadi agenda tahunan bagi kami dan ini serupa pertunjukkan orchestra yang sangat besar. Pada malam pertunjukkan, elektron dari kami akan mengalami eksitasi atau elektron kami akan melompat dari tingkat energi standar ketingkat energi yang lebih tinggi. Saat elektron kami kembali ketingkat energi semula disana kami membebaskan energi cahaya dengan warna-warna kami. Serukan…..!  Sehingga pada malam pertunjukkan kami berprinsip semua orang dilarang bersedih untuk hidupnya dan harus punya harapan untuk melangkah ketahun berikutnya dengan semangat yang baru, dan jiwa yang baru. HAPPY NEW YEAR...

Nikel Aliansi Para Logam


“Na..na…na…!! hmm…hmm….hmm…!!”gumam Nikel (Ni) pelan sambil berjalan hilir mudik didepan Besi (Fe) dan Krom (Cr). Mereka bertiga sedang menunggu manusia untuk membantunya membuat campuran logam tahan asam atau yang disebut Nikrom.
“Nikel..! kau bisa diam tidak? Dari tadi jalan terus hilir mudik kayak setrikaan, bentar lagi kita kan mau bantu manusia buat….apa sih?Krom! manusia tadi bilang apa ya, aku lupa lagi, kita-kita ini mau dipadukan lalu namanya perpaduan kita itu apa lupa lagi?”teriak Besi
“Campuran logam tahan asam! itu yang disebut Nikrom” jawab Krom

“Iya, itu…Nikrom, kau duduklah sebentar Nik, jangan hilir mudik mulu”
“Besi, aku gugup…aku kan baru sekarang mau dipadukan dengan kau dan si Krom, kalau dengan Tembaga dalam membuat koin/Monel aku sering” sahut Nikel (Ni)
“Iya duduk dulu, sebentar lagi manusia-manusia itu datang, tumben kau merasa gugup, biasanya juga kalau denganku bantu manusia membuat sendok makan biasa aja tuh” balas Besi
“Itukan sering Besi! Mendadak rewel sih kau ini, tapi ngomong-ngomong kau berapa % sih nyumbang tubuhmu buat Nikrom itu?”tanya Nikel sambil berhenti melangkah dan menatap kearah Besi
“Aku, Cuma 25%” sahut Besi balik menatap
“Kau Krom?berapa %?”Tanya Nikel lagi pada Krom
“15%lah ngapain banyak-banyak?”jawab Krom (Cr)
“Berarti aku yang paling banyak 60%”
“Gak papalah buat Monel juga kau 60% kan daripada Tembaga yang 40%, amal…nik,amal!”teriak Besi
“Amal sih amal, tapi lama-lama aku bisa habis juga”
“Mang sejak kapan sih, kau suka jadi aliansi para logam?”Krom yang bertanya
“Ya sejak manusia bernama Axel Crostedt tahun1751 menemukanku, sejak saat itu aku banyak diburu, selain pelapis logam tahan karat tentunya, aku bersama Tembaga memulai karier cie…karier, jadi mata uang di Amerika serikat dan Switzerland” jawab Nikel
“Wah, enak dong pernah  jadi mata uang negara Adi kuasa” komentar Krom
“Itu dulu, waktu jadi mata uang syiling ya, secara dia itu putih mengkilat ha..ha…” ejek Besi
“Gak bosan apa jadi aliansi para logam terus?” tanya Krom lagi
“Enggak sih, tapi selain jadi aliansi para logam sekali-kali aku juga suka jadi katalis reaksi adisi H2 dalam membantu manusia membuat mentega atau margarin”
“Oya, enak ya, tapi manusia-manusia itu pada kemana ya?kok belum datang juga sih?”kata Krom sambil berdiri melirik kesana kemari
“Iya nih, padahal ditempatku rasanya suhunya sudah mencapai 3005K, aku bisa mendidih nih” kata Nikel
“Ah masa, ditempatku adem-adem aja tuh” sahut Besi masih duduk acuh tak acuh
“Ya sudah, bagaimana kalau kita pulang dulu kerumah masing-masing entar kita kumpul lagi disini, oya Nik, aku tidak tahu rumahmu, bagaimana nanti menghubunginya?” Tanya Krom lagi
“Gampang Rumahku dekat Paladium sama Platina kok, jemput aja entar di kampung Sistem Periodik Unsur di gang 4 blok VIIIB nomor rumah 28” jawab Nikel
“Masih seblok sama aku, entar sama-sama aja lah jemputnya” sahut Besi lagi
“Boleh, oya aku lupa kata manusia selain membuat Nikrom kita juga kedepannya ada rencana buat baja Stainless Steel “sahut Krom
“Buat apa baja kayak gitu?” Tanya Besi
“Katanya sih buat pembuatan rel kereta api, senapan dan thank”
“Oh, ya sudah, aku juga mau membantu manusia membuat campuran logam electroplating dulu, nanti jangan lupa ya Krom jemput aku” kata Nikel
“Oke nik, selamat bertugas!”

Oksigen yang istimewa

Oksigen kini duduk di kursi goyang di rumah kecil gang 2 blok VIA nomor 8 di desa kecil yang bernama Sistem Periodik Unsur. Mengenang masa-masa mudanya dulu. Mengenang saat pertama kali dia dilahirkan. Dia ingat masa kecilnya. Dia ingat orang tuanya. Dia lahir di Uppsala tahun 1773 oleh Carl Wilhem Scheele. Lalu tahun 1774 dia diadopsi oleh Joseph Priestley di Wiltshire. Lalu dia diberi nama ‘oxygen’ oleh Antoine Lavoisier tahun 1777. Sungguh nama yang indah. Diambil dari bahasa Yunani, oxys dan genes, yang artinya menghasilkan asam. Sebenarnya kurang cocok dengan keadaanku. Nama ini lebih tepat dipakai oleh tetanggaku yang bernomor rumah 1, Hidrogen.

Dia ingat saat dia masih kecil dia merasa minder. Dia tidak merasa istimewa. Dia tidak seperti teman-temannya yang dimasukkan ke golongan istimewa. Dia tidak termasuk ke golongan alkali, alkali tanah, gas mulia, halogen, transisi, aktinida, lantanida. Dia merasa dia hanyalah unsur biasa, hanya unsur biasa. Tapi suatu ketika, Oksigen berbincang-bincang dengan tetangganya sekaligus sahabatnya yang sesama ‘unsur biasa’, Nitrogen.

“Hey, Oksigen, janganlah kau bersedih karena kita hanyalah unsur biasa, masuk ke golongan reguler.”

“Sungguh tidak enak, kawan. Aku merasa tidak percaya diri. Aku merasa diriku tidak berharga.”, keluh Oksigen.

“Hey, siapa bilang dirimu tidak berharga. Setiap unsur itu pasti ada kegunaanya. Jangan salah, meski kita yang tidak masuk golongan istimewa tapi kita semua berprestasi, kawan. Bahkan kau juga. Kau belum mengetahuinya?”

“Benarkah, maukah kau menceritakannya kepadaku?”

“Baiklah. Unsur-unsur ‘biasa’ seperti kita ini diam-diam sangat berprestasi. Misalnya hidrogen ketika berpasangan denganmu menghasilkan air yang sangat berguna untuk kehidupan manusia. Aku digunakan pada insdustri pupuk. Tapi, sebaiknya kau tidak berpasangan dengan karbon, bisa menimbulkan polusi, dan berbahaya bagi manusia.”, cerita Nitrogen.

“Tahukah kau, kau ini paling dibutuhkan makhluk hidup. Tanpa kau manusia tidak bisa hidup, begitu pula hewam dan tumbuhan. Kau dibutuhkan untuk bernafas. Di alam semesta ini kau menempati urutan ketiga paling melimpah. Bahkan kau paling melimpah di kerak bumi. Bersyukurlah kau, kau begitu dibutuhkan orang.”

“Wah, aku sama sekali tidak menyangka.”

“Ya, kau justru sangat berprestasi. Meski kau tidak termasuk benda langka tapi kau dicari, dibutuhkan. Di atmosfer 23,15% beratnya, 85,8% berat lautan, 46,7% berat kulit bumi, 60% tubuh manusia. Selain itu, masih banyak kegunaanmu yang lainnya, seperti untuk reaksi pembakaran, pengolahan baja, industri kertas dan industri plastik, pembuatan ozon, pengisi tabung pernafasan untuk astronot dan penyelam, dan bersama hidrogen cair digunakan sebagai bahan bakar roket. Selain itu, kau juga terkenal dengan sifat supelmu. Dengan keelektronegatifanmu kau bisa berteman dengan hampir seluruh teman-teman unsur lainnya, membentuk oksida. Unsur lain yang meskipun termasuk golongan yang istimewa belum tentu bisa sepertimu.”. Benar juga ya, meski aku tidak termasuk golongan istimewa manapun aku berguna untuk kehidupan manusia, bahkan tidak hanya manusia, seluruh makhluk hidup membutuhkanku, pikir Oksigen. Sejak saat itu, Oksigen tidak minder lagi. Dia melangkah lebih percaya diri menuju hari esok yang cerah.

Dahulu, Oksigen pernah mempunyai saudara alotrof, yang bernama Gas Oksigen. Tiba-tiba Gas Oksigen tersinari sinar ultraviolet dan petir. Gas Oksigen ini menjadi kembar tiga dan berubah nama menjadi Ozon. Ozon ini dapat menyerap sebagian ultraviolet. Bayangkan jika tidak ada ozon, katarak, serta kekurangan kekebalan tubuh. Tapi, sekarang Ozon ini sedang sakit-sakitan, dia sekarang sudah sangat tua dan tubuhnya sudah rusak akibat ulah manusia yang kian hari kian berkurang lahan hijau di permukaan bumi.

Oksigen kembali mengingat-ngingat dirinya kembali di masa lalu. Ah, dia teringat sesuatu hal. Dia pernah berubah. Sebenarnya dia berwujud gas dalam suhu kamar, tapi suatu hari saat suhu 90,20 K, dia berubah menjadi cair. Saat suhu 54,36 K dia berubah lagi menjadi padat. Dalam keadaan gas, dia tidak berwarna dan tidak berbau. Tapi dalam keadaan cair dan gas, dia berwarna biru langit yang indah. Hal ini disebabkan karena penyerapan warna merah.

Dalam mendapatkan Oksigen di laboratorium ada beberapa cara. Dia dapat dibuat dengan elektrolisis air atau memanaskan KclO3 dengan MnO2 sebagai katalis. Dalam mendapatkan Oksigen secara teknik industri ada dua cara, elektrolisis air dan distilasi bertingkat udara cair. Kemurnian yang didapatkan dari cara distilasi adalah 99%, sedangkan melalui elektrolisis hanya 1%.

Oksigen mengenang saat-saat itu. Kini dia sudah tua renta. Apalagi salah satu saudara alotrof-nya, Ozon, dia sudah sakit-sakitan. Jika dia bisa berbicara dia akan berbicara seperti ini, “Kami, oksigen lama-kelamaan akan berkurang jika umat manusia tidak menambah pepohonan hijau. Selain itu saudara alotrofku sudah sakit-sakitan akibat ulah kalian. Jika dia sampai mati, kalian umat manusia sendirilah yang akan merugi.”
http://kiradinira.forumotion.com/t23-cerita-kimia-oksigen-yang-istimewa

Kisah Elang dan Kalkun


Konon di satu saat yang telah lama berlalu, Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman yang baik. Dimanapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas.
Satu hari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara pada Elang, “Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!”. Elang membalas, “Kedengarannya ide yang bagus”.
Jadi kedua burung melayang turun ke bumi, melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor Sapi. Sapi ini tengah sibuk makan jagung,namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekat dengannya, Sapi berkata, “Selamat datang, silakan cicipi jagung manis ini”.
Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan mereka dengan mudahnya. Elang bertanya, “Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami?”. Sapi menjawab, “Oh, kami punya banyak makanan disini. Tuan Petani memberikan bagi kami apapun yang kami inginkan”. Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah. Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani.
Sapi menjawab, “Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan”. Kalkun tambah bingung, “Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang ingin kamu makan?”. Sapi menjawab, “Tepat sekali!. Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal.” Elang dan Kalkun menjadi syok berat!. Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.
Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini. Kalkun berkata pada Elang, “Mungkin kita harus tinggal di sini. Kita bisa mendapatkan semua makanan yang kita inginkan tanpa perlu bekerja. Dan gudang yang disana cocok dijadikan sarang seperti yang telah pernah bangun. Disamping itu saya telah lelah bila harus selalu bekerja untuk dapat hidup.”
Elang juga goyah dengan pengalaman ini, “Saya tidak tahu tentang semua ini. Kedengarannya terlalu baik untuk diterima. Saya menemukan semua ini sulit untuk dipercaya bahwa ada pihak yang mendapat sesuatu tanpa mbalan. Disamping itu saya lebih suka terbang tinggi dan bebas mengarungi langit luas. Dan bekerja untuk menyediakan makanan dan tempat bernaung tidaklah terlalu buruk. Pada kenyataannya, saya menemukan hal itu sebagai tantangan menarik”.
Akhirnya, Kalkun memikirkan semuanya dan memutuskan untuk menetap dimana ada makanan gratis dan juga naungan. Namun Elang memutuskan bahwa ia amat mencintai kemerdekaannya dibanding menyerahkannya begitu saja. Ia menikmati tantangan rutin yang membuatnya hidup. Jadi setelah mengucapkan selamat berpisah untuk teman lamanya Si Kalkun, Elang menetapkan penerbangan untuk petualangan baru yang ia tidak ketahui bagaimana ke depannya.
Semuanya berjalan baik bagi Si Kalkun. Dia makan semua yang ia inginkan. Dia tidak pernah bekerja. Dia bertumbuh menjadi burung gemuk dan malas. Namun suatu hari dia mendengar istri Tuan Petani menyebutkan bahwa Hari raya Thanks giving akan datang beberapa hari lagi dan alangkah indahnya jika ada hidangan Kalkun panggang untuk makan malam. Mendengar hal itu, Si Kalkun memutuskan sudah waktunya untuk pergi dari pertanian itu dan bergabung kembali dengan teman baiknya, si Elang.
Namun ketika dia berusaha untuk terbang, dia menemukan bahwa ia telah tumbuh terlalu gemuk dan malas. Bukannya dapat terbang, dia justru hanya bisa mengepak-ngepakkan sayapnya. Akhirnya di Hari Thanks giving keluarga Tuan Petani duduk bersama menghadapi panggang daging Kalkun besar yang sedap.
Ketika anda menyerah pada tantangan hidup dalam pencarian keamanan, anda mungkin sedang menyerahkan kemerdekaan anda…Dan Anda akan menyesalinya setelah segalanya berlalu dan tidak ada KESEMPATAN lagi…
Seperti pepatah kuno “selalu ada keju gratis dalam perangkap tikus”.